Renata menunggu di depan minimarket dengan jaket tipis, celana panjang rumah, sandal datar, dan wajah yang terlalu puas untuk perempuan yang baru saja membuat staf finance menyeberangi separuh kota demi alasan bernama roti.
Satria turun dari ojek online dengan rambut sedikit berantakan karena helm dan ekspresi yang sudah lelah sebelum percakapan dimulai.
Renata melambai kecil dari dekat pintu kaca minimarket. Satria berhenti tiga langkah di depannya. “Kamu benar-benar turun hanya untuk roti?”
“Aku perempuan mandiri.”
“Kamu memintaku datang.”
“Aku tidak pernah bilang mandiriku bebas gangguan.”
Satria menatapnya. Renata tersenyum. Minimarket itu tidak terlalu ramai. Hanya ada dua motor parkir, seorang kurir yang sedang minum kopi kaleng di dekat trotoar, dan kasir muda yang terlihat mengantuk. Lampu putih minimarket jatuh di wajah Renata, membuatnya tampak berbeda dari Renata kantor. Tidak ada blazer. Tidak ada sepatu hak. Tidak ada garis tegas yang biasa ia pakai untuk menahan dunia di tempatnya.
Malam itu, Renata terlihat lebih kecil. Bukan lemah. Hanya lebih manusia. Satria tidak suka betapa cepat hal itu mengganggu pertahanannya.
“Ayo,” kata Renata, membuka pintu minimarket. Bel otomatis berbunyi saat mereka masuk. Udara dingin menyambut terlalu keras. Renata berjalan ke rak roti dengan langkah ringan, sementara Satria mengikuti di belakangnya seperti pengawal yang belum menyetujui kontrak. Renata berhenti di depan deretan roti manis. “Pilihkan.”
“Kamu yang lapar.”
“Aku ingin tahu seleramu.”
“Roti cokelat.”
“Sesederhana itu?”
“Roti tidak perlu konflik batin.”
Renata mengambil satu roti cokelat, lalu menatap kemasannya. “Ini?”
“Boleh.”
“Kamu menjawab roti dengan ‘boleh’?”
“Saya tidak punya hubungan emosional dengan merek roti.”
“Sayang sekali. Hidupmu miskin drama.”
“Saya sedang menjaga agar hidup tetap aman.”
Renata mengambil dua roti cokelat, satu susu kotak, lalu berhenti di depan rak kopi botolan. “Kamu?”
“Tidak usah.”
“Aku tanya mau apa, bukan apa yang menurut harga dirimu aman.”
Satria merapatkan bibir. Renata memutar bola mata, mengambil satu air mineral dan satu kopi botol. “Satu untuk sisi bertahan hidupmu, satu untuk sisi manusia yang masih mungkin bahagia.”
Satria tidak menjawab. Ia tahu jawaban apapun hanya akan memberi Renata ruang lebih besar untuk menyerang. Di kasir, Satria bergerak lebih dulu untuk membayar. Renata sudah menduganya dan menempelkan ponsel ke mesin pembayaran lebih cepat. Transaksi selesai dalam tiga detik. Satria menatapnya. Renata mengambil kantong belanja dengan wajah polos. “Aku yang lapar.”
“Kamu sengaja.”
“Tentu.”
“Kamu tahu saya akan membayar.”
“Makanya aku lebih cepat.” Renata melirik kasir yang mendadak sangat tertarik pada struk. “Kita sedang melatihmu menerima fakta bahwa tidak semua pembayaran adalah serangan terhadap harga diri.”
Jari Satria menekan ujung dompetnya di saku. Rahangnya bergerak kecil. Renata melihat itu dan tersenyum tipis, seperti seseorang yang tahu pisaunya tepat menyentuh luka. “Kita bahas di luar,” kata Satria rendah.
“Baik.”
Mereka keluar dari minimarket dan duduk di bangku kecil dekat parkiran. Bangkunya keras, catnya sedikit terkelupas, dan dari jarak beberapa meter terdengar suara motor lewat, terlalu berisik untuk dianggap romantis. Renata membuka roti cokelat seperti sedang membuka hadiah kecil. Satria duduk di sampingnya, tidak terlalu dekat. Renata melihat jarak itu, lalu tidak mengomentarinya.
Ia menggigit roti, mengunyah sebentar, lalu mengangguk. “Enak.”
“Itu roti minimarket. Rasanya stabil.”
“Stabil kadang menyenangkan.”
Satria menoleh sedikit. Renata menatap jalan, bukan dirinya. Ada sisa lelah di wajah perempuan itu, tipis, tidak terlalu tampak kalau orang hanya melihat dari jauh. Satria tahu Renata bisa saja pulang, mandi, tidur, dan tidak membuat satu pun drama malam ini. Tapi ia memilih turun, membeli roti, duduk di bangku minimarket, dan menunggu Satria datang. Keras kepala. Tapi bukan hanya itu. Mungkin Renata sedang belajar meminta ditemani tanpa mengatakannya dengan cara yang rapuh.
Satria membuka botol air mineral. “Hari ini berat?”
“Tidak terlalu.”
Ia memutar tutup botol pelan. “Jawabanmu terlalu rapi.”
Renata menoleh. “Wajahmu mulai menghitung kerusakan.”
“Saya anak finance, bukan psikolog.”
“Tapi kamu suka mengaudit retak orang.”
Satria diam. Renata tersenyum kecil, lalu menyobek sedikit roti dan menyodorkannya ke arah Satria. “Cobain.”
“Saya tidak lapar.”
Renata tetap menyodorkan potongan itu. Satria menatap roti. Lalu tangan Renata. Lalu wajahnya. Renata menunggu tanpa bicara. Matanya masih nakal, tapi kali ini ia tidak mendorong terlalu keras. Ia seperti tahu kalau sedikit saja ia keliru, Satria akan mundur kembali ke balik semua angka dan alasan yang ia sebut aman. Akhirnya Satria mengambil potongan roti itu. Ujung jari mereka bersentuhan. Ringan. Tidak sengaja yang terlalu disengaja. Renata tidak tersenyum menang. Ia hanya menggigit rotinya lagi, memberi Satria kesempatan untuk menganggap itu kejadian biasa. Satria tahu itu bukan hal biasa. Tapi ia menghargai usaha Renata untuk berpura-pura.
“Besok aku ada rapat dengan Damar,” kata Renata setelah beberapa saat.
“Sore?”
“Pagi. Bahas tim kecil revisi struktur costing beberapa proyek.”
Satria mengangguk. “Pak Oka bilang finance juga terlibat.”
“Namamu mungkin masuk.” Tutup botol di tangan Satria berhenti berputar. Renata melihatnya. “Bukan dariku.” Ia menatap Renata. “Aku serius,” kata Renata, lebih tajam. “Damar yang minta orang yang menemukan gap kemarin. Pak Oka setuju. Aku tidak mengusulkan namamu.”
Satria menatap botol di tangannya. Di kepalanya, ketakutan lama langsung berdiri. Kalau ia masuk tim itu, orang akan bicara. Kalau ia bekerja dekat Renata, orang akan bicara. Kalau hasilnya bagus, orang akan bicara. Kalau hasilnya buruk, lebih banyak lagi yang bicara. Tapi kalau ia menolak hanya untuk menghindari Renata, bukankah itu juga membiarkan perempuan itu mengatur jalannya? Hanya saja dari arah berlawanan.
Renata menunggu. Satria tahu perempuan itu ingin menambahkan banyak hal. Ingin meyakinkan. Ingin berkata kesempatan itu pantas ia ambil. Mungkin ingin mengguncang bahunya dan menyuruhnya berhenti mengecilkan diri. Tapi Renata menahan semua itu. Ia hanya duduk di samping Satria, memegang roti cokelat separuh, dan membiarkan pria itu berpikir.
“Kalau saya masuk tim itu,” kata Satria akhirnya, “kita lebih ketat.”
Renata mengangguk. “Baik.”
“Tidak ada pesan aneh di jam kerja.”
“Baik.”
“Tidak datang tiba-tiba.”
“Baik.”
“Kalau butuh file, lewat jalur resmi.”
“Baik.”
“Kalau saya salah, jangan lunak.”
Renata menatapnya. “Aku tidak lunak saat kerja.”
“Jangan berubah karena ini.”
Renata menyandarkan punggung ke bangku, menatapnya dari samping. “Satria, aku tertarik padamu. Bukan kehilangan akal sehat profesional.” Ia berhenti sebentar, lalu sudut bibirnya naik. “Sedikit mungkin. Tapi tidak di dokumen.”
Satria hampir tersenyum. Renata melihat itu, lalu tersenyum duluan.
“Kalau kamu melanggar,” kata Satria, “saya keluar dari tim.”
Senyum Renata turun. Bagus. Satria ingin ia tahu kalimat itu serius.
“Saya tidak mau pekerjaan saya jadi area kabur antara kemampuan dan kedekatan,” katanya. “Kalau itu terjadi, saya mundur.”
Renata menatap roti di tangannya. “Baik.” Kali ini jawabannya tidak ringan. Satria merasa sedikit bersalah, tapi tidak menariknya. Beberapa batas memang harus cukup tegas supaya tidak berubah menjadi hiasan. Beberapa saat mereka hanya mendengar suara malam. Lalu Renata menghela napas panjang, seperti perempuan yang baru saja selesai menelan pil pahit tanpa air. Ia menyodorkan kantong belanja ke pangkuan Satria. Satria menatap kantong itu. “Pegang.”
“Kenapa?”
“Aku ingin marah sebentar. Tanganku penuh roti.”
Satria berkedip. Renata meletakkan kantong itu begitu saja di pangkuannya, lalu menyilangkan tangan di depan dada.
“Kamu marah?”
“Sedikit.”
“Karena saya membuat batas?”
“Bukan.” Renata menatap jalan, wajahnya kesal sungguhan. “Karena kamu benar.”
Satria menunduk, menahan tawa. Renata meliriknya tajam. “Jangan tertawa. Aku sedang menderita.”
Satria gagal. Tawanya keluar. Renata menatapnya selama dua detik, lalu tawanya ikut pecah, kecil dan lelah, tetapi cukup untuk membuat malam itu tidak setegang sebelumnya.
Setelah roti habis, Satria memesan ojek untuk pulang. Renata berdiri di pinggir parkiran, masih dengan jaket tipisnya, menunggu sampai kendaraan Satria datang. “Kamu naik dulu,” kata Satria.
“Apartemenku di seberang.”
“Tetap saja.”
Renata mengangkat alis. “Kamu mengaturku?”
“Saya memastikan kamu tidak berdiri di pinggir jalan terlalu lama.”
“Perhatian.”
“Prosedur keselamatan.”
“Kamu selalu memberi nama buruk untuk hal baik.”
Satria menatap jalan. “Nama baik membuat hal baik terasa terlalu cepat.”
Renata diam. Kalimat itu keluar pelan, hampir tertutup suara motor lewat. Tapi Renata mendengarnya. Perempuan itu selalu terlalu tajam untuk hal-hal yang ingin disembunyikan Satria. Ia melangkah mendekat sedikit, lalu berhenti sebelum jarak menjadi terlalu sempit. “Aku akan pelan,” katanya. Satria menoleh. “Dengan catatan,” lanjut Renata, wajahnya kembali sedikit berbahaya, “pelan versiku tetap bisa membuatmu butuh air putih.”
Satria menghela napas. Ojeknya datang.
Renata tersenyum kecil. “Pulanglah, pria yang sedang belajar bertahan.”
Satria memakai helm, lalu sebelum motor bergerak, ia berkata, “Masuk dulu.”
Renata menatapnya. Kali ini, ia tidak membantah. Ia berjalan menuju lobby apartemen, lalu menoleh sekali ketika sampai pintu kaca. Satria masih di sana, menunggu sampai ia benar-benar masuk. Renata masuk dengan dada yang diam-diam hangat.
Satria baru memberi aba-aba pada pengemudi setelah pintu kaca itu tertutup di belakang Renata.
Besok paginya, nama Satria benar-benar masuk tim kecil. Pengumuman itu disampaikan Pak Oka dengan nada biasa, seolah tidak seperti baru saja meletakkan satu granat sosial di meja finance. “Damar minta kita kirim dua orang untuk costing task force. Saya ikut di level review, Satria masuk teknis. Raka backup data awal.”
Raka menoleh pada Satria dengan ekspresi antara bangga dan ingin tertawa.
Satria menatap Pak Oka. “Pak, apa tidak sebaiknya yang lebih senior?”
Pak Oka mengangkat wajah dari dokumen. “Yang lebih senior pegang audit internal. Kamu paling paham gap vendor kemarin.”
“Baik, Pak.”
“Jangan tegang. Ini kesempatan bagus. Kalau kerjamu rapi, kelihatan.”
Itu yang ia takutkan. Kelihatan. Tapi Satria hanya mengangguk.
Raka menunggu sampai Pak Oka masuk ruangan, lalu berbisik, “Selamat, Mas. Kamu naik kelas.”
“Ini tugas tambahan, bukan naik kelas.”
“Beda istilah, efek lembur sama.”
Satria membuka file. “Jangan jadikan ini bahan bercanda.”
Raka langsung lebih serius. “Aku tahu.” Satria menoleh. Raka menyandarkan punggung ke kursi. “Orang bakal ngomong. Bukan semua, tapi cukup. Kerjamu harus lebih rapi dari mereka, supaya kalau mereka cari celah, yang ketemu cuma kebencian mereka sendiri.”
Satria menatapnya cukup lama. Kadang Raka menyebalkan karena terlalu banyak bicara. Kadang ia lebih menyebalkan karena tiba-tiba benar.
“Saya tahu,” kata Satria.
“Dan kalau Bu Renata mulai melanggar aturan, bilang.”
Satria menatapnya.
“Bukan ke aku sebagai gosip,” lanjut Raka. “Ke aku sebagai saksi bahwa kamu sudah berusaha waras.”
“Kamu bisa jadi saksi waras?”
“Aku bisa berpura-pura untuk teman.”
Satria tersenyum kecil.
Pukul sepuluh, rapat pertama task force dimulai di ruang besar lantai dua belas. Renata duduk di sisi kanan meja, tidak di kursi kepala. Damar memimpin. Pak Oka hadir melalui video panggilan karena ada urusan lain. Ada dua orang dari project, satu dari procurement, satu legal, dan Satria di ujung meja dengan laptop terbuka.
Renata tidak menatapnya lebih lama dari orang lain. Tidak tersenyum. Tidak memberi kode. Tidak membuat kalimat yang bisa disalahartikan. Satria seharusnya lega. Ia memang lega. Sedikit. Tapi bagian lain dari dirinya, bagian yang memalukan dan harus dikunci di gudang, merasa kehilangan sesuatu ketika Renata menjadi profesional sepenuhnya. Lalu Satria kesal pada dirinya sendiri. Manusia memang tidak tahu diri. Saat Renata mengganggu, ia meminta batas. Saat Renata mematuhi batas, ia merasa ruangnya terlalu kosong.
Rapat berjalan keras. Damar ingin revisi cepat. Procurement membela vendor. Legal memperingatkan klausul denda. Project menyodorkan kebutuhan lapangan. Satria mendengar semua, mencatat, lalu bicara hanya ketika angka mulai dibelokkan dengan kata-kata manis.
“Kalau termin awal tetap tiga puluh lima persen, risiko arus kas pindah ke sisi kita,” katanya. “Vendor boleh bilang butuh kepastian, tapi milestone mereka belum cukup detail untuk angka itu.”
Procurement menoleh. “Vendor itu sudah lama kerja sama dengan kita.”
“Justru karena sudah lama, mereka tahu kita sering longgar di awal.”
Ruangan diam. Damar menatap Satria dengan minat baru. Renata menurunkan pandangan ke dokumennya. Tidak tersenyum. Tapi Satria melihat ujung pulpen Renata berhenti bergerak. Ia tahu perempuan itu ingin tersenyum. Dan entah kenapa, mengetahui bahwa Renata menahan diri membuat Satria ingin bekerja lebih baik. Bukan untuk Renata. Bukan juga karena Renata. Tapi karena di ruangan itu, untuk pertama kalinya, ia merasa mungkin bisa terlihat tanpa langsung mengecil.
Rapat selesai dua jam kemudian. Orang-orang keluar dengan wajah membawa pekerjaan tambahan. Satria menutup laptopnya, memasukkan buku catatan ke tas, lalu berdiri. Renata masih bicara dengan Damar di ujung ruangan. Satria tidak menunggu. Aturan. Ia berjalan keluar lebih dulu. Di koridor, ponselnya menyala.
Kamu bagus tadi.
Satria berhenti sebentar. Pesan Renata. Ia menatap layar. Lalu membalas:
Jam kerja.
Balasan datang cepat.
Ini evaluasi profesional.
Lewat chat pribadi.
Baik. Aku simpan pujian sampai setelah kerja.
Satria hampir tersenyum. Lalu pesan lain masuk.
Tapi secara profesional, procurement tadi hampir menangis. Aku bangga secara struktural.
Satria menutup ponsel. Tidak membalas. Karena kalau membalas, ia mungkin akan tertawa di koridor kantor, dan itu jelas melanggar semua standar keselamatan pribadi.
Siang itu, Renata tidak mengajak makan.
Satria makan bersama Raka di kantin gedung sebelah. Raka mengunyah ayam goreng sambil menatapnya curiga.
“Dia benar-benar mematuhi aturan?”
Satria mengaduk nasi. “Sejauh ini.”
“Menakjubkan.”
“Jangan terdengar kecewa.”
“Aku bukan kecewa. Aku sedang merevisi persepsi tentang manusia.”
Satria hampir menjawab, tetapi ponselnya menyala. Bukan dari Renata. Dari nomor ibunya.
“Bu.”
Suara ibunya masuk bersama suara televisi dari rumah. Lembut, sedikit jauh, seperti dunia lain yang tetap berjalan dengan ritme lebih lambat. “Kamu sudah makan?”
“Sedang makan.”
“Jangan telat. Kamu kalau kerja suka lupa.”
“Iya, Bu.”
“Kerjaan lancar?”
Satria melirik piringnya. “Lancar.”
“Capek?”
Pertanyaan itu sederhana. Tapi setelah bertemu dunia Renata, setelah lobby hotel, ibunya, task force, dan seluruh jarak yang makin tampak bentuknya, pertanyaan itu terasa terlalu dekat. “Sedikit.”
Di seberang sana, ibunya diam sebentar. “Kalau capek, istirahat. Tidak semua harus kamu kejar hari itu juga.”
Satria menatap meja kantin. Raka, yang biasanya tidak tahu sopan santun terhadap momen apapun, mendadak sibuk melihat minumannya sendiri. “Iya, Bu.”
“Bapak tadi nanya kamu pulang kapan.”
“Mungkin bulan depan kalau ada libur.”
“Tidak usah dipaksa kalau mahal. Yang penting kamu sehat.”
Itu masalahnya dengan keluarga Satria. Mereka tidak pernah meminta banyak. Justru karena itu, ia merasa harus memberi lebih.
Setelah menutup telepon, Satria diam beberapa saat. Raka tidak bertanya.
Malamnya, rapat lanjutan selesai pukul tujuh. Satria keluar ruangan dengan kepala penuh angka dan perut kosong. Ia berjalan menuju lift, membuka ponsel, dan menemukan pesan Renata yang dikirim tepat pukul enam lewat satu menit.
Setelah jam kerja.
Pesan berikutnya:
Sekarang boleh: kamu bagus tadi.
Satria membaca pesan itu sambil berdiri di depan lift. Balasan lain menyusul.
Dan aku berhasil tidak memujimu di depan orang. Ini pencapaian besar.
Satria mengetik:
Apresiasi diterima.
Renata:
Itu jawaban kering sekali untuk pujian yang kutahan delapan jam.
Satria menatap layar cukup lama. Lalu, entah karena lelah, lapar, atau karena ia mulai paham bahwa kompromi bukan hanya Renata yang menahan diri, ia mengetik:
Kamu juga bagus tadi. Tidak ikut campur.
Balasan tidak langsung datang. Satria menunggu di depan lift. Pintu terbuka. Saat lift mulai turun, pesan Renata muncul.
Aku senang kamu melihatnya.
Tidak ada godaan. Tidak ada tambahan lucu. Hanya itu. Satria menatap pesan tersebut sampai pintu lift terbuka di lantai sembilan. Di luar lift, Renata berdiri. Satria hampir menjatuhkan ponsel.
Renata mengangkat kedua tangan cepat. “Aku tidak turun ke mejamu. Ini area lift. Netral.”
“Sangat manipulatif.”
“Aku tahu. Tapi legal.”
Satria menatapnya, lalu melihat sekitar. Koridor sepi. Jam sudah lewat tujuh. Area finance tidak seramai siang. Renata membawa dua roti minimarket di tangan.
Ia mengangkat salah satunya. “Distribusi karbohidrat darurat. Aku belajar istilah buruk darimu.”
Satria menatap roti itu. Lalu wajah Renata. Lalu roti itu lagi. “Kamu tidak bisa terus menggunakan celah.”
“Aku bisa.” Renata tersenyum tipis. “Tapi malam ini aku pakai secukupnya.”
“Sangat meyakinkan.”
Renata menyodorkan roti kepadanya. “Makan. Kamu belum makan malam.”
“Kamu tahu dari mana?”
“Wajahmu seperti orang yang mulai menghitung vendor sebagai lauk.”
Satria mengambil roti itu. Jari mereka tidak bersentuhan kali ini. Renata sengaja menjaga jarak. Hal kecil itu membuat Satria diam lebih lama dari seharusnya. “Terima kasih,” katanya.
Renata tersenyum. “Lihat? Aku bisa baik tanpa membuatmu panik.”
Satria membuka bungkus roti. “Kamu muncul di depan lift dengan roti setelah jam kerja.”
“Level paniknya lebih rendah.”
“Saya tidak mengkonfirmasi.”
“Tapi kamu tidak kabur.”
Satria menggigit roti untuk menghindari jawaban. Renata berdiri di sampingnya, bersandar ringan pada dinding koridor. Mereka tidak bicara selama beberapa detik. Hanya makan roti di depan lift lantai sembilan seperti dua orang yang belum tahu cara paling benar untuk saling menjaga tanpa saling menakuti.
Lalu Renata berkata, “Aku ingin menyandarkan kepala di bahumu.” Satria berhenti mengunyah.
Satria menelan pelan, lalu menatapnya. “Kamu tidak bisa memberi peringatan setelah serangan.”
“Aku sudah memberi peringatan. Aku bilang ingin, belum melakukan.”
“Kamu mengatakannya terlalu tiba-tiba.”
“Aku sedang meminta izin. Katanya jangan menyentuh di depan orang.”
Satria menatap koridor. Sepi. Tidak kosong sepenuhnya, tapi cukup aman.
Renata memperhatikan wajahnya. “Boleh?”
Pertanyaan itu tidak playful seperti biasanya. Satria tahu ia bisa menolak. Renata akan menerima. Mungkin dengan keluhan, mungkin dengan drama kecil, tapi ia akan menerima.
Ia menelan roti pelan. “Sebentar.” Mata Renata berubah. Sangat cepat. Terlalu cepat untuk disebut menang. Lebih seperti lega yang hampir lupa disembunyikan. Ia melangkah mendekat, pelan kali ini, lalu menyandarkan kepala di bahu Satria. Ringan Tidak memeluk. Tidak menggandeng. Hanya kepala Renata di bahunya, rambutnya menyentuh sisi leher Satria sedikit, aroma sampo dan parfum tipis bercampur dengan udara kantor yang dingin. Tubuh Satria menegang dulu. Jarinya meremas bungkus roti sampai plastiknya berbunyi kecil. Lalu, setelah beberapa detik, bahunya turun perlahan. Tangannya tetap di sisi tubuh. Ia tidak menyentuh balik. Belum. Tapi ia tidak mundur. Renata menutup mata.
“Capek?” tanya Satria pelan.
“Iya.”
Satu kata. Tidak dibungkus canda. Satria menatap angka lift yang mati di atas pintu. Di ruangan-ruangan sekitar mereka, lampu masih menyala sebagian. Gedung belum tidur. Jakarta di luar belum berhenti. Besok akan ada rapat lagi, gosip lagi, batas lagi, jarak lagi, seluruh hal yang belum selesai. Tapi selama beberapa detik itu, Renata hanya berat kecil di bahunya. Bukan vice manager. Bukan anak keluarga mapan. Bukan perempuan keras kepala yang suka membuatnya panik. Hanya Renata. Satria menggeser tangannya sedikit. Tidak sampai memeluk. Hanya cukup untuk menyentuh ujung lengan jaket Renata dengan punggung jarinya. Renata tidak bergerak. Tapi Satria tahu ia merasakannya. Mereka berdiri seperti itu sampai lift berbunyi dari lantai lain. Renata langsung menegakkan tubuh sebelum pintu terbuka.
Dua orang dari legal keluar sambil bicara, melewati mereka tanpa banyak memperhatikan. Satria menatap lurus ke depan, roti masih di tangan. Renata menatap lantai, menahan senyum. Ketika dua orang itu pergi, Renata berkata pelan, “Kompromi pertama berhasil.”
Satria menoleh. “Itu kamu sebut kompromi?”
“Iya.”
“Itu pelanggaran yang diberi izin terbatas.”
“Nama lain dari kompromi.”
Satria menutup mata sebentar. Renata tertawa kecil.
Dan di ujung koridor, tanpa mereka sadari, seseorang dari divisi procurement berhenti setengah detik sebelum berbelok. Tidak lama. Tidak mencolok. Hanya cukup untuk melihat Renata berdiri terlalu dekat dengan Satria, melihat roti di tangan mereka, melihat senyum yang belum sempat disembunyikan perempuan itu. Lalu orang itu berjalan lagi. Malam itu belum menjadi gosip. Tapi seperti semua hal kecil di kantor, ia sudah mulai mencari telinga.
Di luar gedung, Jakarta masih bising. Masih tidak ramah. Masih penuh lampu yang berpendar di atas aspal seperti sesuatu yang terlalu mahal untuk diinjak. Tapi malam itu, Satria tidak merasa sedang diseret ke dunia Renata. Ia merasa sedang memilih satu langkah kecil. Satu saja. Tidak sejajar. Belum. Tapi bergerak ke arah yang sama.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!