Kopi, Lift, dan Gangguan Jabatan

0 dibaca

A

Satria tidak pernah menganggap ponsel sebagai ancaman sebelum mengenal Renata. Selama ini, ponsel hanyalah benda kerja yang sesekali berubah menjadi alat keluarga untuk memastikan ia masih hidup, sudah makan, belum lupa bayar listrik, dan tidak pulang terlalu malam karena ibunya punya imajinasi buruk tentang Jakarta. Di luar itu, ponsel Satria cukup sunyi. Beberapa grup kantor yang ia bisukan, satu dua pesan dari teman lama, notifikasi bank, dan promo makanan yang selalu datang saat ia sedang berusaha hemat.

Lalu Renata masuk ke daftar kontaknya. Setelah itu, ponsel Satria seperti menemukan alasan baru untuk menyala di waktu-waktu yang tidak bertanggung jawab.

Malam itu, ia baru selesai mencuci gelas di kamar kos ketika layar ponselnya menyala di atas meja kecil. Kamar itu tidak luas. Satu kasur, satu lemari, meja lipat, rak besi, dan jendela yang menghadap tembok bangunan sebelah. Tidak banyak ruang untuk berpura-pura hidupnya megah. Semua benda di sana punya fungsi, bukan gaya. Kipas angin tua berputar dengan suara sedikit pincang. Lampu putih menggantung di tengah plafon, membuat bayangan benda-benda terlihat lebih jujur daripada yang Satria inginkan.

Ia mengeringkan tangan dengan handuk kecil, lalu melihat layar.

Renata Maharani.

Sudah makan malam?

Satria menatap pesan itu seperti melihat angka tidak wajar di laporan. Pertanyaan sederhana. Terlalu sederhana malah. Tapi karena datang dari Renata, ia curiga ada pintu jebakan di bawahnya. Ia membalas setelah hampir satu menit.

Sudah.

Balasan datang cepat.

Apa?

Satria menatap langit-langit kamar. Ada rasa aneh yang menyusup di antara lelah dan kewaspadaannya. Bukan tidak nyaman. Di situlah masalahnya. Renata mengganggu dengan cara yang tidak sepenuhnya ingin ia hentikan.

Nasi goreng.

Beli?

Masak.

Balasan Renata tidak langsung masuk. Tiga titik muncul, hilang, muncul lagi. Satria bisa membayangkan perempuan itu berada di tempat yang jauh lebih nyaman dari kamar kosnya, mungkin dengan sofa besar, pendingin ruangan yang tidak perlu diketuk agar menyala, dan lampu kuning hangat yang membuat segala hal terlihat seperti iklan furnitur mahal. Pesan masuk.

Kamu bisa masak?

Satria menatap ponsel dengan wajah datar.

Nasi goreng bukan prestasi nasional.

Bagi sebagian orang, itu tetap prestasi.

Sebagian orang itu kamu?

Tiga titik muncul lagi. Satria baru sadar ia mengetik terlalu cepat. Terlalu santai. Terlalu mirip orang yang tidak sedang menjaga jarak.

Balasan Renata masuk.

Aku bisa masak. Tapi dapur biasanya terlihat seperti habis restrukturisasi besar.

Satria tertawa pelan sebelum sempat menahannya. Suara itu pendek, jatuh ke kamar kosong, lalu membuatnya diam sendiri. Ia jarang tertawa sendirian. Biasanya kalau sendirian, ia hanya hidup secukupnya. Makan, mandi, menyusun baju kerja, mengecek catatan, menelepon ibunya jika sempat, lalu tidur dengan kepala yang masih menghitung biaya bulan depan.

Ponsel bergetar lagi.

Besok aku bawakan kopi.

Satria langsung duduk lebih tegak, padahal tidak ada siapa-siapa di kamar.

Tidak perlu.

Aku tidak bertanya perlu atau tidak.

Satria mengusap pangkal hidungnya.

Jangan bawa apa-apa ke meja saya.

Kenapa?

Ia menatap layar. Karena ini kantor. Karena orang melihat. Karena Renata bisa tertawa dan tetap aman setelah orang bicara, sementara ia akan menjadi bahan baru untuk mengukur apakah kemampuannya asli atau hanya efek samping perempuan dari lantai tiga belas yang terlalu sering turun. Karena Renata nekat seperti orang yang punya banyak tempat untuk pulang jika sesuatu rusak, sementara Satria masih mencatat makan siang di aplikasi keuangan agar akhir bulan tidak menjadi percakapan panjang dengan diri sendiri.

Ia tidak mengetik semua itu.

Karena ini kantor.

Balasan Renata datang lebih lama.

Baik. Aku tidak akan membawa ke mejamu.

Satria menatap kalimat itu. Terlalu patuh. Maka lebih mencurigakan.

Celah tetap celah, Renata.

Aku tersinggung kamu mengira aku mudah ditebak.

Satria mematikan layar ponsel. Lima detik kemudian, layar menyala lagi.

Tidur jangan terlalu malam. Rahang sebagus itu tidak boleh kalah oleh kurang tidur.

Satria memejamkan mata. “Gila,” gumamnya, pelan sekali. Bukan makian sungguhan. Lebih seperti tanda menyerah. Ia tidak membalas. Bukan karena tidak ingin. Justru karena ingin.

Pagi berikutnya, Satria datang lebih awal dari biasanya. Bukan karena takut Renata datang membawa kopi. Tentu saja bukan. Ia hanya ingin menyelesaikan laporan termin vendor sebelum jam sepuluh. Itu alasan resmi yang ia susun untuk dirinya sendiri, meskipun bagian paling jujur dari kepalanya tahu ia datang lebih pagi karena ingin memastikan mejanya tidak menjadi panggung drama.

Mejanya kosong. Tidak ada kopi. Tidak ada sticky note. Tidak ada tas kertas. Tidak ada tanda-tanda vice manager nekat turun ke lantai sembilan sebelum jam kerja hanya untuk mengganggu staf finance. Satria merasa lega.

Lega itu bertahan sampai pukul sembilan lewat tujuh. Office boy masuk ke area finance membawa nampan berisi beberapa gelas kopi dari kafe lobi. Semua gelas ditempeli nama. Beberapa staf langsung bersorak kecil karena ternyata Pak Oka memang sedang dalam suasana hati baik setelah proposal kemarin diselamatkan.

“Dari Pak Oka,” kata office boy itu.

Raka langsung mengambil satu gelas. “Wah, tumben Bapak menyayangi kami dengan kafe lobi, bukan kopi sachet pantry.”

Satria menerima gelas yang disodorkan kepadanya. Namanya tertulis di stiker putih.

SATRIA — Americano, less sugar

Tidak ada yang aneh. Tidak ada. Sampai ia memutar gelas itu dan menemukan tulisan kecil di sisi belakang stiker, dengan huruf rapi yang terlalu percaya diri.

Tidak ke mejamu. Lewat program kesejahteraan divisi.

Satria menutup mata sebentar. Raka, yang sedang menyeruput kopi, memperhatikan wajahnya. “Mas?”

Satria menutupi sisi belakang gelas dengan telapak tangan. “Apa?”

“Kopimu salah?”

“Tidak.”

“Kenapa wajahmu seperti baru menemukan selisih moral?”

Satria berdiri. “Saya ke Pak Oka.”

Raka mengangkat alis. “Untuk lapor kopi?”

Satria tidak menjawab. Ia berjalan menuju ruangan Pak Oka dengan gelas di tangan, mengetuk pintu, lalu masuk setelah dipersilakan. Pak Oka sedang membaca email, kacamata turun sedikit di hidung.

“Ya, Satria?”

“Pak, kopi ini dari Bapak?”

Pak Oka melihat gelas itu, lalu mengangguk santai. “Iya. Eh, bukan. Bu Renata tadi pesan beberapa kopi untuk tim kita. Katanya sebagai apresiasi karena revisi kemarin cepat. Saya setuju saja. Kenapa?”

Satria diam. Bukan ke mejanya. Lewat program kesejahteraan divisi. Secara teknis Renata tidak melanggar. Secara moral perempuan itu sudah menghancurkan garis pertahanan pertamanya sambil memakai nota pembelian resmi. “Tidak apa-apa, Pak. Terima kasih.”

“Baik kan Bu Renata? Perhatian sama tim.”

Satria menatap gelas kopi di tangannya. “Ya, Pak,” katanya datar. “Sangat perhatian.”

Ketika ia keluar, ponselnya bergetar.

Aku menepati janji.

Satria berhenti di depan ruang Pak Oka, membaca pesan itu dengan rahang mengeras.

Ia mengetik:

Itu manipulasi administratif.

Balasan datang cepat.

Kamu anak finance. Harusnya menghargai administrasi yang rapi.

Satria hampir tersenyum. Lalu ia mengingat Raka di luar dan memaksa wajahnya kembali kosong.

Di meja, ia meletakkan kopi di sisi kanan laptop. Raka langsung melirik. “Ada masalah?”

“Tidak.”

“Mas, kamu bicara dengan nada menyembunyikan bukti.”

Satria membuka file kerja. “Kalau energi sebesar ini kamu pakai untuk rekonsiliasi, divisi kita naik kelas.”

Raka menunjuk gelas kopi Satria dengan dagu. “Namamu ditempel lebih rapi.”

Satria menoleh. Gelas Raka memang hanya ditempeli nama dengan spidol. Gelas Satria memakai stiker cetak dari kafe, huruf kapital rapi, pesanan spesifik. Raka menyeringai pelan. Satria memutar gelasnya sampai stiker menghadap dirinya sendiri. “Kerja.”

“Mas, aku selalu kerja.”

Pagi itu, Renata tidak muncul di lantai sembilan. Hal itu seharusnya membuat Satria tenang. Tapi perempuan itu ternyata tidak perlu hadir secara fisik untuk mengganggu. Kopi di meja Satria menjadi bukti kecil bahwa Renata bisa menyusup ke harinya melalui jalur legal, melewati Pak Oka, memakai alasan apresiasi tim, dan tetap meninggalkan kalimat yang membuat Satria ingin naik ke lantainya untuk protes langsung. Keinginan itu yang paling membuatnya kesal.

Pukul sebelas, Pak Oka memanggil Satria untuk membawa dokumen revisi ke lantai dua belas. Bukan ke ruangan Renata, melainkan ke sekretariat project office. Dokumen harus ditandatangani Damar, lalu disalin untuk legal. Tugas sederhana. Aman. Tidak ada alasan bertemu Renata. Satria membawa map itu sendiri.

Raka melepasnya dengan tatapan seperti orang mengantar prajurit ke medan perang. “Jaga diri, Mas.”

Satria tidak menoleh. “Ini cuma dokumen.”

“Semua tragedi kantor dimulai dari kalimat itu.”

Satria menekan tombol lift sedikit lebih keras dari perlu. Lift kosong ketika pintunya terbuka. Ia masuk, menekan lantai dua belas, lalu berdiri di sisi kiri. Lift naik satu lantai, lalu berhenti.

Pintu terbuka di lantai sepuluh. Renata masuk. Satria menatap angka lantai. Renata berdiri di sampingnya, aroma parfumnya masuk lebih dulu daripada kalimatnya. Hari itu ia memakai kemeja hitam dengan celana panjang abu-abu, rambutnya dibiarkan jatuh melewati bahu. Tidak ada blazer. Tidak ada map. Tidak ada alasan jelas kenapa ia masuk lift menuju dua belas, padahal ruangannya di lantai tiga belas.

“Pagi.”

“Sudah hampir siang.”

“Berarti kamu sadar waktu. Bagus.”

Satria tidak menoleh. “Kamu sengaja?”

“Naik lift?” Ia menatap pantulan Renata di pintu lift. Perempuan itu tersenyum kecil. “Aku habis dari legal.”

“Saya tidak tanya dari mana.”

“Tapi wajahmu menuduhku menyusun operasi rahasia.”

“Apakah salah?”

Renata diam sebentar, seolah mempertimbangkan apakah kejujuran perlu diberikan secara gratis pagi itu. “Tidak sepenuhnya.”

Satria menarik napas pelan. Lift berhenti di lantai sebelas. Dua orang masuk. Percakapan berhenti. Renata bergeser sedikit untuk memberi tempat. Dalam gerakan itu, punggung tangannya menyentuh punggung tangan Satria. Tidak sampai satu detik. Satria tidak bergerak, tetapi seluruh tubuhnya seperti menerima email penting tanpa subjek.

Renata tetap menatap pintu lift. Tidak ada senyum. Tidak ada komentar. Tidak ada pengakuan bahwa sentuhan itu disengaja atau tidak. Justru itu yang membuat Satria makin jengah.

Karena Renata tahu cara menjadi terang-terangan, tetapi ia juga tahu cara membuat sesuatu tampak nyaris tidak bisa dituntut. Sentuhan punggung tangan itu kecil. Terlalu kecil untuk diprotes. Tapi cukup untuk membuat Satria sadar bahwa tubuhnya telah menjadi tempat Renata menaruh tanda baca.

Dua orang tadi turun di lantai dua belas bersama Satria. Renata juga ikut keluar. Satria menoleh. “Ruanganmu lantai tiga belas.”

“Aku ada perlu di project office.”

“Perlu apa?”

Renata menatap map di tangannya. “Dokumen revisi yang kamu bawa.”

“Pak Oka bilang saya serahkan ke sekretariat.”

“Benar.”

“Lalu kamu?”

“Aku sekretariat emosionalnya.”

Satria berhenti berjalan. Renata berjalan dua langkah lebih dulu, lalu menoleh dengan wajah polos yang tidak lulus audit. “Satria, jangan menatapku begitu. Aku bisa semakin tertarik.”

Kalimat itu sudah keluar di koridor kantor pada jam kerja, di lantai tempat orang-orang project office bisa muncul kapan saja.

Satria menghampirinya dengan langkah cepat, bukan marah besar, tapi cukup panik untuk membuat Renata terlihat puas. “Renata,” katanya rendah, “koridor punya telinga.”

“Kalau begitu kita cari tempat tanpa telinga.”

“Itu bukan solusi.”

Renata memperhatikannya, lalu tertawa kecil. “Kamu lucu kalau menyelamatkan reputasi kita berdua.”

“Lebih banyak menyelamatkan reputasi saya.”

“Setidaknya kamu mengakui ada kita.”

Satria menatapnya dua detik. Lalu ia berbalik dan berjalan menuju sekretariat project office. Renata mengikutinya sambil tersenyum.

Di sekretariat, mereka kembali menjadi dua manusia kantor yang sangat profesional. Satria menyerahkan dokumen. Renata menjelaskan singkat poin revisi kepada staf project. Damar belum ada, jadi dokumen ditinggalkan untuk dicek. Tidak ada godaan. Tidak ada sentuhan. Tidak ada kalimat yang bisa membuat HR menyalakan alarm.

Satria hampir percaya bahwa Renata bisa berhenti. Lalu saat mereka keluar dari ruangan, Renata mengambil map kosong dari tangan Satria tanpa bertanya. “Aku bawa.”

“Saya bisa bawa sendiri.”

“Aku tahu.” Renata menatap tangan Satria yang mendadak kosong. Senyumnya naik sedikit. “Aku suka membuat tanganmu tidak punya pekerjaan.”

Satria berhenti. Renata tampak seperti baru menyadari kalimatnya bisa terdengar lebih berbahaya daripada niat awalnya. Atau mungkin ia sadar sejak awal. Satria tidak yakin mana yang lebih buruk.

“Aku kembali ke lantai sembilan,” katanya kaku.

“Aku ikut sampai lift.”

“Tidak perlu.”

“Lift fasilitas umum.”

Satria menatap langit-langit sebentar. Mereka berjalan berdampingan menuju lift. Jarak di antara mereka cukup sopan, tetapi tetap terlalu dekat untuk jantung Satria yang sejak pagi sudah diganggu kopi, stiker, dan lift kosong.

Renata berhenti di depan lift, lalu menatapnya dari samping. “Kamu kurang tidur.”

Satria menekan tombol lift. “Semua orang di gedung ini mendadak punya lisensi observasi wajah?”

“Aku bukan semua orang.”

“Sayangnya.”

Renata tersenyum. “Kamu lebih galak kalau kurang tidur.”

“Itu bukan pujian.”

“Belum selesai.” Tatapannya turun sebentar ke rahang Satria. Terang-terangan. Tanpa malu. “Rahangmu membuat galaknya terlihat mahal.”

Satria menatapnya. Renata hanya tersenyum. Tidak menyentuh. “Matamu mengganggu,” kata Satria. Kalimat itu keluar begitu saja. Ia langsung menyesal.

Renata diam. Hanya satu detik. Tapi satu detik itu cukup mahal. Lalu senyumnya muncul, pelan sekali, seperti perempuan yang baru saja mendapatkan data baru yang akan ia simpan di folder penting. “Oh.”

Satria menatap tombol lift yang belum juga menyala. Renata melangkah setengah langkah mendekat. Tidak banyak. Cukup untuk membuat bahu mereka hampir sejajar. “Kalau mataku menganggu,” katanya pelan, “bilang bagian mana yang harus kuhindari.”

Satria tidak menatapnya. Itu kesalahan. Karena dalam pantulan pintu lift, ia bisa melihat Renata melihatnya. Tatapan perempuan itu tidak turun jauh. Hanya berhenti di wajahnya, di rahangnya, lalu kembali ke matanya. Sangat sopan. Sangat tidak sopan.

“Saya sedang bekerja.”

“Kamu sedang menunggu lift.”

“Dengan dokumen kerja.”

“Dengan rahang bagus.”

Satria merapatkan bibirnya. Renata tertawa pelan, lalu mengangkat tangan. Ia tidak langsung menyentuh. Jarinya berhenti beberapa sentimeter dari lengan Satria. “Kerahmu sedikit miring.”

“Tidak.”

“Kalau tidak, aku bisa pura-pura ada debu.” Satria menoleh pelan. Renata tersenyum. “Aku sedang memberi pilihan.”

“Semuanya buruk.”

Renata tertawa lagi. Lalu ia menyentuh lengan Satria, bukan kerah. Hanya ujung jari di kain kemeja dekat siku, ringan tetapi jelas. Bukan kebetulan. Bukan tersenggol lift. Bukan punggung tangan yang tidak sengaja bersinggungan karena ruangan sempit.

Satria diam. Diamnya bukan tenang. Diamnya adalah semua sistem pertahanan yang mendadak bekerja bersamaan: jangan mundur terlalu cepat, jangan terlihat menikmati, jangan menatap tangannya, jangan lupa ini kantor, jangan lupa dia vice manager, jangan lupa orang bisa keluar dari ruangan mana saja dan melihat.

Renata menahan jarinya di sana. “Aku bisa berhenti.”

Satria menatap jarinya di lengan. Lalu lift yang masih belum datang. Lalu koridor project office yang setiap saat bisa memuntahkan saksi. Ia tidak menggeser lengannya.

Renata tidak langsung menang. Ia hanya mengangguk kecil, lalu menarik tangannya sendiri. “Baik.” Satria menatapnya. Renata membalas tatapannya dengan wajah yang lebih tenang. “Aku bisa nekat,” katanya. “Tapi aku tidak tuli.” Kalimat itu sederhana.

Satria membenci betapa tepatnya kalimat itu masuk. Karena bagian paling berbahaya dari kenekatan Renata bukan saat perempuan itu maju. Satria bisa menyebut itu sembrono, kurang ajar, berbahaya, atau terlalu percaya diri. Semua label tersedia.

Yang membuatnya sulit adalah fakta bahwa Renata maju sambil tetap mendengar. Satria tidak punya pengalaman baik dengan orang-orang yang terlalu nekat. Biasanya mereka masuk, mengambil ruang, lalu menyebut keberatan orang lain sebagai kurang santai. Tapi Renata menyentuh, bertanya, membaca, lalu mundur kalau batasnya ditemukan.

Itu membuat Satria tidak punya cukup alasan untuk membenci. Dan tanpa alasan untuk membenci, ia harus menghadapi hal lain yang lebih sulit. Keinginan untuk tidak sepenuhnya menjauh.

Ponsel Renata berbunyi. Ia melihat layar. Wajahnya berubah sedikit. Tidak banyak. Hanya satu bayangan kecil lewat di matanya, cukup cepat untuk disembunyikan dari orang yang tidak memperhatikan.

Sayangnya, Satria memperhatikan. Renata mematikan layar tanpa mengangkat telepon.

“Tidak kamu angkat?” tanya Satria.

“Mama.” Satria menahan diri untuk tidak bertanya lebih lanjut. Renata melihatnya dari samping. “Tidak penasaran?”

“Saya mencoba sopan.”

“Berat?”

“Lumayan.”

Renata tersenyum, tetapi tidak sepenuhnya. Lift belum datang. Ponselnya menyala lagi. Kali ini pesan. Renata membacanya sekilas. Wajahnya tetap tenang, tapi tangan yang memegang ponsel mengencang sebentar.

Satria melihat itu juga. Renata memasukkan ponsel ke tas.

“Mama selalu begitu?” tanya Satria akhirnya.

Renata menoleh. Satria sendiri tampak sedikit terkejut karena bertanya. Ia menyesal, tetapi kalimat sudah ada di udara. Renata tidak langsung menjawab. Di belakang mereka, seseorang dari legal lewat sambil mengangguk. Renata membalas anggukan itu, lalu berkata pelan, “Mama selalu tahu jam paling tidak nyaman untuk mengingatkan bahwa hidupku harus tetap rapi.”

Satria diam. “Apa yang diingatkan?”

Renata memandang angka lift yang turun perlahan. “Lusa malam makan malam keluarga. Ada anak kenalan Papa yang kebetulan pulang dari Singapura.” Kalimat itu biasa saja. Sangat biasa malah.

Namun ada sesuatu di sana yang membuat udara di antara mereka berubah. Bukan cemburu, Satria meyakinkan dirinya. Tidak mungkin cemburu. Ia tidak punya posisi untuk itu. Mereka bukan apa-apa. Renata hanya perempuan yang terlalu sering menggodanya, dan ia hanya pria yang terlalu mudah terganggu belakangan ini. Tapi tetap saja, perutnya terasa seperti ada angka minus yang tidak ia temukan sumbernya. “Oh.”

Renata menoleh sedikit. “Oh?”

Satria menatap pintu lift. “Semoga makan malamnya efisien.”

Renata menatap wajahnya. “Kamu menyebalkan.”

“Saya mendukung stabilitas acara keluarga.”

“Kamu tidak terganggu?”

Satria diam. Lift bergerak turun. Angka berganti dari dua belas ke sebelas, sebelas ke sepuluh. Ia bisa berbohong. Ia cukup terlatih menata wajah datar. Tapi Renata punya kebiasaan buruk melihat yang tidak ingin ia tunjukkan. Kalau ia berbohong terlalu rapi, perempuan itu mungkin akan lebih senang membongkarnya. Akhirnya ia berkata, “Saya tidak punya hak untuk terganggu.”

Renata tidak langsung membalas. Kalimat itu jatuh di lantai lift seperti benda kecil yang pecah tanpa suara besar. Satria menyesal begitu mendengarnya.

Renata menurunkan pandangan ke tangannya. Ada jeda panjang sebelum ia bergerak. Satria mengira perempuan itu akan mengatakan sesuatu yang tajam. Atau lucu. Atau nekat. Salah satu dari tiga hal yang biasa ia gunakan untuk menggoyahkan pertahanan Satria.

Tapi Renata hanya melangkah mendekat. Tidak banyak. Satu langkah. Cukup untuk membuat sisi lengannya hampir menyentuh lengan Satria. “Kamu benar,” katanya pelan. “Kamu belum punya hak.” Satria menatapnya. Renata mengangkat wajah. “Tapi kalau kamu mau, kamu bisa mulai mengambilnya sedikit-sedikit.”

Pintu lift terbuka di lantai sembilan. Di luar, Raka berdiri dengan gelas kosong di tangan. Satria dan Renata sama-sama menoleh. Raka membeku. Wajahnya mengatakan ia hanya ingin mengambil air, tetapi nasib justru memberinya adegan yang tidak pantas diterima pegawai biasa tanpa tunjangan bahaya.

Renata keluar lebih dulu dengan wajah tenang. “Raka, kan?”

Raka hampir menjatuhkan gelas. “Iya, Bu.”

“Jangan ganggu Satria terlalu banyak. Dia mudah panik.”

Satria menutup mata. Raka menatap Renata, lalu Satria, lalu kembali ke Renata. Ada kilatan kebahagiaan liar di wajahnya. “Baik, Bu.”

Renata melirik Satria sebentar, lalu menyerahkan map kosong ke tangannya. “Terima kasih sudah mengantar dokumen.”

Padahal Satria yang mengantar dokumen. Padahal Renata yang mengikutinya. Padahal kalimat itu disusun agar terdengar profesional di depan saksi mata.

Satria mengambil map itu dengan wajah datar yang sudah terlalu lelah untuk melawan.

Renata berjalan kembali ke lift. Sebelum pintu tertutup, ia berkata, “Kopi hari ini jangan dibuang. Aku memilihnya dengan pertimbangan penuh.”

Pintu lift menutup. Raka masih berdiri di tempatnya. Satria berjalan melewatinya. “Mas,” kata Raka lirih. Satria tidak berhenti. Raka mengikuti dari belakang, menahan tawa seperti orang menahan batuk saat upacara. “Bu Renata benar. Kamu mudah panik.”

Satria meletakkan map di meja dengan terlalu rapi. “Raka.”

“Iya?”

“Kalau masih ingin menggunakan fasilitas kantor dengan tubuh utuh, kembali ke mejamu.”

Raka kembali ke mejanya sambil tersenyum.

Sisa hari itu berjalan dengan cara yang tampak normal di permukaan. Satria menyelesaikan laporan, mengikuti brief singkat, membalas email, memperbaiki angka. Renata tidak turun lagi. Tidak ada kopi tambahan. Tidak ada pesan baru sampai jam kerja hampir selesai.

Namun normal yang dulu sudah tidak bisa kembali utuh. Satria menyadarinya ketika ia menutup laptop pukul tujuh malam dan menemukan satu sticky note kecil menempel di sisi dalam map kosong yang tadi dikembalikan Renata.

Ia tidak melihatnya seharian karena sibuk. Atau mungkin karena semesta memang ingin mempermalukannya di waktu yang tepat, saat area finance mulai sepi dan tidak ada Raka di sebelah untuk menyaksikan wajahnya berubah. Tulisan Renata rapi.

Besok aku tidak turun. Kamu boleh bernapas.

Satria menatap catatan itu lama.

Di bawahnya ada tambahan kecil.

Tapi kalau kamu rindu, lantai tiga belas punya lift.

Satria menghela napas. Ia seharusnya membuang sticky note itu. Seharusnya. Tangannya bahkan sudah bergerak ke arah tempat sampah kecil di bawah meja. Tapi ia berhenti di tengah jalan. Beberapa detik berlalu. Lalu Satria membuka buku catatan hitamnya, menyelipkan sticky note itu di halaman belakang, dan menutup buku dengan cepat seperti baru melakukan tindak kriminal ringan.

Di perjalanan pulang, ponselnya bergetar. Renata.

Kamu sudah pulang?

Satria berjalan keluar dari gedung, melewati lobby yang mulai lengang. Di luar, malam Jakarta basah oleh sisa gerimis. Lampu kendaraan memantul di aspal, membuat jalanan tampak seperti sesuatu yang mahal dan kacau. Ia membalas sambil berjalan ke halte.

Baru keluar kantor.

Naik apa?

TransJakarta.

Balasan Renata tidak langsung datang. Satria tahu jeda itu. Jeda orang yang dunianya terbiasa menawarkan kendaraan pribadi, driver, atau minimal taksi online tanpa berpikir dua kali. Ia menunggu apakah Renata akan melakukan kesalahan kecil, menawarkan jemputan, menyuruh naik taksi, atau bertanya kenapa tidak pakai kendaraan sendiri. Tapi Renata tidak melakukan itu. Pesannya masuk setelah beberapa saat.

Hati-hati. Jangan berdiri dekat pintu kalau penuh.

Satria membaca pesan itu dua kali. Ada hal-hal yang bisa membuat manusia luluh bukan karena besar, melainkan karena tidak salah tempat. Renata tidak menariknya ke dunia Renata malam itu. Renata hanya berdiri, entah di mana, dan mengingatkan agar ia tidak berdiri dekat pintu bus.

Satria mengetik:

Kamu sudah pulang?

Ia mengirim sebelum sempat memikirkan gengsi. Balasan datang cepat.

Masih di kantor.

Satria berhenti di bawah atap halte. Gerimis turun tipis di luar.

Kenapa belum pulang?

Ada laporan yang harus selesai. 

Satria menatap pesan itu. Lalu membalas:

Jangan tidur terlalu malam. Vice manager juga bisa maag.

Tidak ada balasan selama hampir satu menit.

Lalu:

Satria.

Satu nama. Tidak ada kalimat lain. Anehnya, itu cukup membuat Satria tahu Renata sedang tersenyum.

Bus datang. Orang-orang mulai bergerak. Satria naik bersama kerumunan, berdiri di dekat pegangan tengah, bukan dekat pintu. Ia memasukkan ponsel ke saku, tetapi tangannya masih terasa hangat karena percakapan tadi.

Malam itu, di dalam bus yang penuh, dengan bahu orang asing menempel sesekali dan suara mesin mengisi sela-sela pikirannya, Satria menatap pantulan wajahnya di kaca gelap.

Ia masih staf finance baru. Renata masih vice manager. Jarak mereka masih ada. Besar, nyata, dan tidak bisa dihapus hanya karena kopi, lift, atau pesan singkat yang dikirim dengan nada terlalu akrab.

Tapi ada sesuatu yang mulai berjalan di antara jarak itu. Pelan. Bandel. Mengganggu. Dan lebih buruk dari semuanya, Satria mulai menunggu gangguan berikutnya.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk