Gosip di kantor tidak pernah benar-benar dimulai dari mulut. Ia dimulai dari jeda. Dari seseorang yang berhenti setengah detik lebih lama di ujung koridor. Dari mata yang menangkap jarak terlalu dekat. Dari roti minimarket di tangan dua orang yang seharusnya tidak punya alasan makan roti bersama di depan lift setelah jam kerja. Dari senyum Renata yang tidak cukup cepat disembunyikan ketika Satria berdiri di sampingnya dengan wajah terlalu kaku untuk disebut biasa.
Besok paginya, gosip itu sudah punya sepatu. Belum berlari. Baru berjalan pelan. Masuk lewat pantry procurement, duduk sebentar di meja legal, menyenggol grup kecil project office, lalu turun ke finance dalam bentuk kalimat yang tidak pernah menyebut nama lengkap, tapi semua orang tahu siapa yang dimaksud.
“Katanya semalam ada yang lembur bareng.”
“Bukan lembur, kayaknya.”
“Di depan lift lantai sembilan.”
“Ssst.”
Kantor adalah tempat orang dewasa berpakaian rapi untuk melakukan hal-hal kekanak-kanakan dengan istilah profesional. Satria mendengar potongan pertama pukul sembilan lewat dua belas. Bukan karena orang-orang sengaja bicara di depannya. Mereka justru terlalu sengaja tidak bicara saat ia lewat. Itu yang lebih jelas. Dua staf procurement yang berdiri dekat mesin kopi langsung menunduk ke gelas masing-masing saat Satria masuk pantry. Yang satu mengaduk kopi tanpa gula. Yang satu lagi menutup botol air yang sudah tertutup.
Satria mengambil air panas. Tidak menoleh. Namun telinganya tetap menangkap satu kata yang tertinggal seperti kertas kecil di lantai.
“Renata.”
Ia menekan tombol dispenser terlalu lama sampai air hampir meluap.
“Mas.” Suara Raka muncul dari pintu pantry.
Satria mematikan dispenser. “Apa?”
Raka tidak bercanda. Itu membuat Satria langsung tahu hari ini tidak baik-baik saja. “Pak Oka carimu.”
“Sekarang?”
“Iya.”
Satria mengambil gelasnya, lalu berjalan keluar.
Raka mengikuti di sampingnya. Biasanya pria itu akan menyelipkan komentar. Sesuatu tentang drama korporat, serial kantor, atau hidup Satria yang kini masuk kategori hiburan premium. Tapi pagi itu Raka diam. Diamnya Raka lebih mengganggu daripada seluruh tawa yang pernah ia keluarkan.
Di ruang Pak Oka, suasananya tidak menyeramkan. Justru itu yang membuat Satria lebih waspada. Pak Oka duduk di belakang meja, kacamata di tangan, wajahnya seperti atasan yang tidak ingin mencampuri urusan pribadi bawahannya, tapi sudah didorong keadaan sampai harus menyentuh topik berbahaya.
“Satria, duduk.” Pintu ditutup. Pak Oka menghela napas kecil. “Saya langsung saja. Ada omongan soal kamu dan Bu Renata.”
Satria menatap meja. “Pak—”
“Saya tidak tanya detail pribadi.” Pak Oka mengangkat tangan. “Itu bukan urusan saya selama tidak mengganggu kerja. Tapi kamu masuk task force yang langsung berhubungan dengan beliau. Posisi kamu masih baru. Orang bisa bicara macam-macam.”
Satria menggenggam gelas airnya lebih erat. “Saya paham, Pak.”
“Saya tahu kerjamu bagus. Saya tidak akan pilih kamu kalau kamu tidak mampu. Damar juga minta karena performamu di proposal kemarin.” Pak Oka meletakkan kacamatanya di meja. “Tapi kantor tidak selalu membaca fakta lebih dulu. Kadang mereka membaca cerita yang paling mudah.”
Cerita yang paling mudah. Staf baru. Vice manager cantik. Jabatan jauh. Perhatian terlalu jelas. Kesempatan task force. Satria tahu ceritanya akan seperti apa bahkan sebelum orang menuliskannya di kepala mereka. Ia menunduk sedikit. “Kalau Bapak merasa posisi saya di task force membuat masalah, saya bisa mundur.”
Pak Oka menatapnya tajam. “Itu justru membuat ceritanya makin buruk.” Satria diam “Kalau kamu mundur sekarang, orang akan bilang kamu memang masuk karena alasan personal lalu ditarik saat ketahuan. Kamu tetap di sana. Kerja rapi. Jangan beri celah.”
Kalimat itu seharusnya menenangkan. Tapi yang terasa di dada Satria justru beban lain. Harus lebih rapi. Harus lebih benar. Harus lebih tenang. Harus bekerja dua kali lipat agar kesalahan orang lain saat membaca hidupnya tidak terdengar benar.
Pak Oka melunak sedikit. “Saya tidak melarang kamu dekat dengan siapapun. Kalian orang dewasa. Tapi paham, ya? Untukmu, risikonya lebih besar.”
Untukmu. Bukan untuk Renata. Satria tersenyum kecil tanpa humor. “Iya, Pak. Saya paham.” Dan memang ia paham.
Renata mungkin akan digosipkan. Dinilai. Dibicarakan sebagai perempuan yang terlalu berani, terlalu sembrono, terlalu suka bermain-main. Tapi setelah itu ia tetap Renata Maharani. Vice manager. Anak Larasati dan Bima. Orang dengan nama, ruang, akses, dan kekuasaan untuk membuat orang berhati-hati.
Satria? Ia staf baru dengan CV biasa. Satu cerita buruk bisa menempel lebih cepat daripada semua angka benar yang ia susun.
Ketika ia keluar dari ruang Pak Oka, Raka berdiri tidak jauh dari mejanya. Kali ini pria itu tidak pura-pura sibuk. Ia menunggu. “Mas?”
Satria duduk, membuka laptop. “Tidak apa-apa.”
“Kalau orang bilang tidak apa-apa setelah dipanggil atasan karena gosip, biasanya ada apa-apa.” Satria tidak menjawab. Raka duduk pelan di kursinya. “Aku dengar dari Dita procurement. Semalam ada yang lihat kalian di depan lift.” Satria menatap layar yang belum menampilkan apa-apa. “Katanya kamu masuk task force karena Bu Renata.” Jari Satria berhenti. Raka langsung menambahkan, “Aku tahu bukan. Pak Oka juga tahu bukan.”
“Itu tidak cukup.”
“Memang.” Satria menoleh. Raka tidak memakai wajah bercanda. “Tapi itu yang kita punya. Fakta yang cukup, walau tidak secepat fitnah.”
Satria menatapnya beberapa detik. Lalu kembali ke layar.
Di lantai tiga belas, Renata mendengar gosip itu dari Mila. Lebih tepatnya, Mila masuk ke ruangannya pukul sembilan lewat empat puluh dengan wajah seperti orang membawa bahan peledak dalam map. “Bu.”
Renata sedang membaca revisi legal. “Kalau Damar minta rapat dimajukan, bilang dia tidak punya cukup kekuasaan untuk merusak pagiku dua kali.”
“Bukan Pak Damar.” Renata mengangkat wajah. Mila menutup pintu. Gerakan itu sudah cukup. “Ada omongan soal Ibu dan Satria.”
Renata meletakkan dokumen pelan. “Sejauh apa?”
“Masih kecil, tapi tumbuh. Procurement melihat Ibu dan Satria semalam di depan lift lantai sembilan.”
Renata menatap Mila tanpa berkedip. “Siapa?”
“Bu.”
“Siapa, Mila?”
Mila tidak langsung menjawab. “Kalau Ibu datang dengan jabatan, masalah ini akan jadi lebih besar.”
“Aku tanya siapa.”
“Dita procurement yang lihat. Tapi yang membentuk narasi bukan cuma dia. Ada beberapa orang yang bilang Satria masuk task force karena Ibu.”
Renata berdiri. Mila langsung melangkah setengah ke depan. “Bu, jangan.”
Renata menatapnya. “Mereka boleh bicara tentang aku.”
“Mereka tidak akan berhenti di Ibu.”
“Aku tahu.”
“Justru karena itu jangan turun sekarang.”
Renata diam. Di dadanya, kemarahan naik cepat, panas, dan rapi. Renata jarang marah dengan cara meledak. Ia lebih sering marah dengan cara menyusun hukuman yang bersih. Membawa orang ke ruang rapat. Meminta fakta. Menekan sampai pihak lain meminta maaf tanpa ia perlu mengucapkan kata kasar. Tapi kali ini, semua dorongan itu berhadapan dengan wajah Satria di lobby.
Jangan membuatku merasa kalau aku berjalan pelan, aku akan kehilanganmu.
Dan aturan pertama yang baru kemarin mereka sepakati seperti kertas tipis di tangannya. Tidak turun ke meja. Tidak membuat finance menjadi panggung. Tidak menggunakan jabatan untuk menyelesaikan sesuatu yang bisa membuat Satria terlihat semakin kecil.
Renata menutup mata sebentar. Mila menunggu. Ketika Renata membuka mata lagi, suaranya sudah lebih rendah. “Satria tahu?”
“Mungkin. Gosipnya sudah sampai finance.”
Renata mengambil ponsel. Mila tidak mencegah. Pesan pribadi bukan panggung. Renata mengetik:
Kamu dengar?
Balasan Satria tidak datang cepat. Renata menunggu sambil berdiri. Sepuluh detik. Dua puluh. Satu menit Akhirnya layar menyala.
Iya.
Hanya itu. Satu kata yang membuat Renata lebih marah daripada semua kalimat panjang. Ia mengetik:
Aku bisa bicara dengan mereka.
Balasan datang lebih cepat.
Jangan.
Renata menggigit bagian dalam pipinya.
Mereka menyerang pekerjaanmu.
Jangan.
Dua kali. Kali ini, Renata meletakkan ponsel di meja sebelum ia membantingnya.
Mila melihat wajahnya. “Bu.”
“Aku tidak akan turun.”
“Bagus.”
“Aku tetap ingin turun.”
“Saya tahu.”
“Aku ingin menyeret satu orang dari procurement ke ruang rapat dan membuat dia menjelaskan metodologi gosipnya.”
“Kalimat itu sangat mengerikan, Bu.”
“Bagus.”
“Tapi jangan.”
Renata duduk kembali. Ia menatap dokumen legal di depannya, tetapi huruf-huruf di sana kehilangan bentuk. Satria sedang di bawah, mungkin duduk dengan wajah datar yang terlalu rapi, mungkin berpura-pura tidak mendengar, mungkin membiarkan semua orang melihat punggungnya tetap tegak meski sesuatu di dalamnya sudah dihantam.
Renata tahu betapa keras Satria menjaga harga dirinya. Dan kini harga diri itu disentuh oleh sesuatu yang dimulai karena kedekatan mereka. Karena Renata meminta kepala disandarkan. Karena Satria memberi izin. Karena satu momen kecil yang seharusnya hanya milik mereka ternyata dipungut kantor dan dijadikan bahan.
Pukul sebelas, task force rapat dimulai. Ruangannya sama seperti kemarin, tapi udaranya berbeda. Orang-orang tetap duduk di tempat masing-masing. Damar membuka pembicaraan. Legal menyiapkan catatan. Procurement hadir dengan dua orang, termasuk Dita, perempuan yang semalam melihat mereka.
Renata datang tepat waktu. Tidak melihat Satria terlalu lama. Satria sudah duduk di ujung meja dengan laptop terbuka, wajahnya tenang. Terlalu tenang. Rapi sampai membuat Renata ingin mematahkan sesuatu.
Damar mulai membahas revisi vendor. Rapat berjalan profesional di permukaan. Lalu salah satu staf procurement, Bayu, melontarkan kalimat dengan nada terlalu ringan. “Kalau dari finance pasti bisa cepat. Apalagi sekarang koordinasinya dekat dengan lantai tiga belas.”
Kalimat itu tidak menyebut nama. Tapi ruangan tahu. Satria tidak mengangkat wajah dari laptop. Renata mengangkat wajah dari dokumen. Damar berhenti bicara. Dita menunduk ke catatan.
Satria mengetik sesuatu, lalu berkata dengan suara datar, “Koordinasi saya lewat file bersama, notulen resmi, dan arahan Pak Oka. Kalau ada concern soal kecepatan kerja finance, sebutkan bagian yang perlu diverifikasi.”
Bayu tersenyum kecil. “Bukan begitu maksud saya.”
“Kalau begitu kalimatnya tidak relevan.” Hening. Renata menatap Satria. Tidak ada getar di suara pria itu. Tidak ada marah yang terlihat. Tapi Renata tahu. Ia tahu Satria sedang menahan sesuatu dengan kedua tangan di bawah meja.
Bayu tampak sedikit tersinggung. “Saya cuma bercanda.”
Satria mengangkat wajah. “Bercanda biasanya tidak dipakai untuk meragukan cara kerja orang.”
Ruangan makin sunyi. Damar berdeham pelan. “Kita kembali ke agenda.”
Renata tidak bicara. Ia ingin. Ya Tuhan, ia ingin sekali. Ia ingin menatap Bayu sampai pria itu meminta maaf pada seluruh sel di tubuhnya. Ia ingin berkata bahwa Satria masuk task force karena Damar sendiri yang meminta. Ia ingin melempar seluruh data performa ke meja dan meminta semua orang yang tidak sanggup membaca kerja orang lain tanpa gosip untuk keluar dari ruangan.
Tapi Satria sudah menjawab. Dengan caranya sendiri. Dan kalau Renata menambahkan pembelaan sekarang, justru semua yang Satria lakukan akan terlihat seperti tidak cukup. Maka Renata diam. Diam yang rasanya seperti menelan kaca.
Rapat berlanjut. Satria bicara ketika perlu. Lebih ringkas dari biasanya. Tetap tajam. Tetap tepat. Damar beberapa kali menyetujui masukannya. Legal meminta file tambahan darinya. Procurement tidak melontarkan komentar ringan lagi.
Secara pekerjaan, Satria menang. Secara manusia, Renata tidak yakin.
Setelah rapat selesai, orang-orang keluar satu per satu. Satria menutup laptopnya dan berdiri. Renata juga berdiri, tapi tidak mendekat. Aturan. Satria berjalan keluar tanpa menoleh.
Renata menggenggam pulpen sampai buku jarinya memutih. Damar, yang masih di ruangan, meliriknya. “Ren.”
“Apa?”
“Jangan hajar procurement.” Renata menatapnya dingin. Damar mengangkat dua tangan. “Aku sayang stabilitas perusahaan.”
“Kalau stabilitas perusahaan bergantung padaku yang tidak menghajar orang yang pantas dihajar, perusahaan ini lemah.”
“Secara emosional, mungkin.” Damar menutup laptopnya. “Tapi Satria tadi cukup baik membela dirinya.”
“Aku tahu.”
“Kalau kamu turun tangan, dia akan terlihat tidak bisa berdiri sendiri.”
“Aku tahu.”
“Dan kamu benci karena dia benar.”
Renata menatap Damar. Damar tersenyum tipis. Ia cukup mengenal Renata untuk tahu kapan harus berhenti. “Anak itu punya tulang punggung. Jangan kamu patahkan karena ingin melindungi.”
Renata tidak menjawab. Damar keluar. Menyisakan Renata di ruang rapat dengan sisa panas yang tidak punya tempat keluar.
Satria tidak kembali ke finance setelah rapat. Ia naik ke rooftop kecil yang biasa dipakai karyawan untuk merokok atau menelepon. Ia tidak merokok. Tidak menelepon. Hanya berdiri di dekat pagar, menatap kota yang siang itu tampak terlalu terang dan terlalu jauh.
Ia sudah membela diri. Ia tahu itu. Kalimatnya tepat. Suaranya stabil. Bayu berhenti. Ruangan kembali ke agenda. Semua terlihat baik. Tapi setelahnya, tubuhnya gemetar sangat halus. Bukan takut pada Bayu. Bukan pada gosip.
Lebih karena ia benci fakta bahwa ia harus membuktikan dirinya bahkan dalam ruangan yang seharusnya membicarakan angka. Benci karena satu momen kecil dengan Renata bisa dipelintir menjadi alasan untuk meragukan kerja yang ia bangun dengan hati-hati. Benci karena sebagian dirinya, bagian yang paling buruk, sempat bertanya apakah semua ini terlalu mahal.
Ponselnya menyala. Renata.
Kamu di mana?
Satria tidak membalas. Pesan kedua masuk.
Aku tidak akan datang kalau kamu tidak mau. Tapi jawab.
Satria menatap layar. Ia bisa mengatakan tidak apa-apa. Bisa mengatakan sedang kerja. Bisa kembali turun dan menyelesaikan hari seperti biasa. Namun ibu jarinya bergerak sebelum ia sempat membangun dinding baru.
Rooftop.
Balasan datang hampir langsung.
Boleh aku naik?
Ia menatap pertanyaan itu lama. Renata meminta izin. Bukan langsung datang. Bukan memaksa. Bukan mengetuk hidupnya dengan sepatu hak dan senyum menang. Satria menghela napas pelan.
Boleh.
Renata datang lima menit kemudian. Tidak dengan langkah cepat. Tidak dengan wajah marah yang siap membakar gedung. Ia membuka pintu rooftop pelan, lalu berjalan mendekat sampai berdiri di sisi Satria, menyisakan jarak satu lengan di antara mereka.
Angin siang mengangkat sedikit rambutnya. Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara. Di bawah mereka, Jakarta tetap sibuk. Mobil bergerak seperti titik-titik keras kepala. Gedung-gedung berdiri dengan kaca yang memantulkan langit pucat. Hidup tidak peduli pada satu gosip kecil di kantor, tapi bagi Satria, siang itu rasanya seperti sesuatu yang telah menempel di kulit.
“Aku ingin marah,” kata Renata akhirnya.
Satria menatap kota. “Saya tahu.”
“Aku ingin membelamu.”
“Saya tahu.”
“Tapi aku diam.” Satria menoleh. Renata masih menatap lurus, rahangnya kencang. “Itu salah satu hal tersulit yang pernah kulakukan di kantor. Dan aku pernah menahan diri tidak memaki vendor yang mengirim file salah tiga kali.” Satria hampir tersenyum. Renata melihat dari sudut mata, tapi tidak menggoda. “Kamu menjawab dengan baik tadi.”
“Saya menjawab karena harus.”
“Iya.”
“Saya capek harus menjawab.”
Renata diam. Kalimat itu pendek, tapi masuk ke dada Renata lebih dalam daripada teriakan.
Satria menunduk, menatap tangannya di pagar. “Saya tahu konsekuensinya. Saya tahu dari awal. Saya bilang padamu, risikonya lebih besar untuk saya. Tapi tetap saja, saat terjadi, rasanya...” Ia berhenti, mencari kata. “Murah.” Renata menoleh padanya. “Seolah semua yang saya lakukan bisa didiskon hanya karena saya berdiri dekat denganmu.”
Wajah Renata melunak dengan cara yang tidak ia izinkan muncul di ruang rapat. “Aku salah menghitung jatuhnya risiko,” katanya.
Satria langsung menoleh. “Bukan salahmu.”
“Sebagian iya.” Suara Renata tetap rendah, tapi tidak memberi ruang untuk dibantah mudah. “Aku minta izin menyandarkan kepala. Kamu memberi. Tapi aku yang meminta di tempat kerja. Aku tahu risikonya. Aku tetap meminta.”
Satria tidak menjawab. Renata menatap tangannya sendiri di pagar. Jari-jarinya tampak rapi, kuku bersih, jam tangan mahal di pergelangan. Semua hal kecil yang selalu mengingatkan bahwa hidupnya punya lapisan perlindungan yang tidak dimiliki Satria.
“Aku terbiasa merasa kalau aku siap menanggung risiko, berarti cukup,” katanya. “Ternyata tidak. Risikonya tidak jatuh sama rata.”
Satria menatapnya lama. Di wajah Renata, tidak ada pembelaan. Tidak ada usaha mengubah kesalahan menjadi lelucon. Untuk pertama kalinya hari itu, ia tidak tampak ingin menang.
Dan itu membuat marah Satria turun ke tempat lain. Bukan hilang. Hanya duduk. “Saya juga salah,” katanya.
Renata menoleh cepat. “Tidak.”
“Saya yang bilang boleh.”
“Kamu tidak salah karena memberi izin untuk sesuatu yang juga kamu inginkan.”
Kalimat itu membuat Satria diam. Renata baru sadar apa yang ia ucapkan. Tapi ia tidak menariknya. Angin bergerak di antara mereka. Di kejauhan, suara klakson naik samar.
Satria menatap pagar rooftop. “Saya memang ingin.” Renata tidak bergerak. Satria tertawa kecil, pahit dan malu. “Di situlah masalahnya.”
“Kenapa itu masalah?”
“Karena kalau saya tidak ingin, saya bisa pergi.” Renata menatapnya, kali ini tidak menyembunyikan apapun. Satria melanjutkan, “Saya bisa bilang kamu terlalu merepotkan. Bisa menjaga jarak. Bisa menyalahkan kantor, keluargamu, posisi kita, semua hal yang memang benar. Tapi saya tetap ingin datang. Saya ingin membalas pesanmu. Saya ingin kamu tertawa saat saya mengatakan hal bodoh tentang roti. Saya ingin...” Rahangnya mengeras. “Saya ingin semua hal yang membuat hidup saya lebih sulit.”
Renata menunduk. Senyumnya muncul, tapi tidak menang. Lebih seperti hangat yang takut terlalu besar. “Satria.”
“Jangan senang dulu. Saya sedang menderita.”
Renata tertawa pelan. “Aku tidak menyesal karena kamu ingin.”
Satria menutup mata sebentar. “Tentu saja tidak.”
“Aku menyesal karena kamu terluka,” kata Renata. “Tapi kalau yang membuatmu menderita adalah fakta bahwa kamu menginginkanku, aku tidak akan pura-pura sedih.”
Satria menghela napas panjang. Renata memang tidak dibuat untuk menenangkan hidup orang dengan cara normal. Mereka diam lagi. Lalu Renata, dengan sangat hati-hati, menggeser tangannya di atas pagar. Tidak sampai menyentuh. Hanya mendekat beberapa sentimeter. Satria melihat gerakan itu. Ia bisa mundur. Tidak ada orang lain di rooftop, tapi tetap tempat kerja. Tetap siang. Tetap risiko. Renata tidak menyentuhnya. Menunggu. Satria menatap tangan itu cukup lama. Lalu ia menggeser tangannya sendiri, sampai punggung jari mereka bersentuhan. Ringan. Sangat ringan. Tidak ada genggaman. Tidak ada pelukan. Hanya dua orang yang sudah terlalu lelah untuk pura-pura tidak membutuhkan tanda kecil bahwa mereka masih berada di sisi yang sama.
Renata menutup mata sebentar. Satria melihatnya. Dan kali ini, ia tidak menarik tangan lebih dulu. “Mulai sekarang,” kata Renata pelan, “tidak ada sentuhan di area kantor. Bahkan kalau sepi. Bahkan kalau aku capek. Bahkan kalau kamu kelihatan seperti butuh dipeluk tapi akan menyangkal sampai akhir zaman.”
Satria menatapnya. “Kamu membuat aturan untuk dirimu sendiri?”
“Iya.”
“Bagus.”
“Tapi di luar kantor, aku ambil kembali meja negosiasi.”
Satria hampir tertawa. “Tentu saja.”
“Aku bukan orang suci.”
“Saya sudah tahu.”
Renata membuka mata, menatapnya dari samping. “Dan soal task force, kamu tetap di sana.”
“Pak Oka juga bilang begitu.”
“Bagus. Aku tidak akan memujimu di ruang rapat. Aku tidak akan membelamu kecuali situasinya menyangkut pekerjaan secara objektif. Aku tidak akan membuat jalanmu terlihat seperti jalanku.” Satria mengangguk pelan. “Tapi di luar itu,” Renata melanjutkan, suaranya lebih rendah, “kalau mereka menyakitimu sebagai manusia, aku tidak akan pura-pura tidak peduli.” Satria menoleh. Renata menatapnya langsung. “Aku bisa diam di ruang rapat karena kamu perlu berdiri sendiri. Tapi jangan minta aku tidak marah saat kamu terluka.”
Satria tidak menemukan jawaban. Jadi ia hanya berkata, “Baik.”
Renata menyipitkan mata. “Kamu benar-benar suka menggunakan ‘baik’ untuk semua jenis percakapan emosional.”
“Ini kata yang stabil.”
“Roti stabil menyenangkan. Pria stabil perlu variasi.”
Satria tertawa kecil. Akhirnya. Renata tersenyum.
Mereka turun dari rooftop terpisah. Renata lebih dulu. Satria lima menit kemudian. Aturan baru. Lebih ketat.
Tapi hari itu, sesuatu sudah berubah. Bukan gosipnya. Gosip tetap berjalan. Sore hari, beberapa tatapan masih menempel di punggung Satria. Di pantry, orang-orang masih berhenti bicara saat ia masuk. Di ruang task force, Bayu tidak lagi bercanda, tapi wajahnya menyimpan sisa gengsi orang yang sudah dipatahkan di depan meja.
Satria bekerja. Lebih rapi. Lebih tajam. Lebih dingin. Renata melihat dari jauh dan tidak mendekat. Itu bentuk sayang yang paling tidak romantis dan paling sulit ia lakukan: membiarkan Satria punya ruang untuk terlihat sendiri.
Pukul tujuh malam, task force menerima revisi final dari vendor. Ada angka yang tidak cocok. Satria menemukannya dalam sepuluh menit. Damar meminta semua orang berkumpul lagi sebentar sebelum pulang. “Ini salah input atau perubahan sepihak?” tanya Damar.
Procurement saling pandang. Satria memutar laptopnya. “Kalau salah input, polanya terlalu rapi. Ada tiga item dinaikkan di sub-komponen berbeda, semuanya kecil, tapi totalnya mengembalikan gap hampir sama dengan revisi yang kita potong kemarin.”
Renata menatap layar. Damar bersandar di kursi. “Jadi mereka menyelipkan balik?”
“Saya tidak bisa sebut niatnya tanpa konfirmasi,” kata Satria. “Tapi angkanya bergerak ke arah itu.”
Damar menoleh ke procurement. “Cek ke vendor malam ini. Saya mau jawaban tertulis.”
Bayu tidak berkomentar. Dita menunduk dan mencatat. Renata tidak tersenyum. Tidak memuji. Tidak membela. Tapi setelah rapat selesai, saat semua orang berkemas, Damar berkata cukup keras untuk didengar satu ruangan, “Satria, good catch. Kalau ini lolos, kita rugi lagi.”
Satria mengangguk. “Terima kasih, Pak.”
Pak Oka yang hadir via video panggilan ikut berkata, “Makanya saya bilang dia masuk tim karena kerja, bukan dekorasi.”
Hening. Tidak panjang. Tapi cukup. Satria menatap layar video panggilan. Pak Oka menyesap kopi dengan wajah polos seorang atasan yang baru saja menampar gosip memakai kalimat kerja.
Renata menunduk ke dokumennya. Kali ini ia benar-benar tersenyum. Tersembunyi. Tapi Satria melihatnya. Dan untuk pertama kalinya hari itu, ia tidak merasa senyum Renata membuatnya kecil. Ia merasa senyum itu berada di belakangnya, bukan di atasnya.
Malamnya, Satria pulang lebih lambat. Area lobby sudah sepi ketika ia turun. Ia tidak berharap Renata menunggu. Setelah hari seperti ini, justru lebih baik tidak. Mereka butuh menjaga aturan. Butuh memberi jarak pada kantor. Butuh tidak membuat hal baru untuk dibicarakan.
Namun di luar gedung, di dekat pagar kecil tempat mobil biasa menunggu, Renata berdiri. Tidak di lobby. Tidak di area kerja Di luar. Masih wilayah kantor, tapi setidaknya bukan panggung terang. Satria berhenti. Renata mengangkat tangan kecil. “Aku tahu. Batas. Ini teknisnya di luar gedung.”
“Sangat manipulatif.”
“Aku konsisten.”
Satria berjalan mendekat, menatap sekeliling. Tidak banyak orang. Satpam di pintu masuk tampak sibuk dengan ponsel. Beberapa karyawan sudah pulang. Angin malam membawa bau hujan yang belum turun. “Ada apa?”
Renata mengeluarkan sesuatu dari tas. Roti minimarket. Satria menatapnya. Renata menyodorkan roti itu. “Pujian resmi tidak boleh lewat chat jam kerja. Sentuhan tidak boleh di kantor. Jadi aku membawa karbohidrat netral.”
Satria mengambil roti itu. “Terima kasih.”
“Kamu hebat hari ini.” Ia mengatakannya pelan. Tidak di ruang rapat. Tidak di depan orang. Tidak memakai jabatan. Tidak menjadikannya tontonan. Hanya Renata, di luar gedung, dengan roti di tangan dan mata yang masih menyimpan marah pada orang-orang yang tadi menyakitinya.
Satria menunduk melihat roti. Lalu berkata, “Kamu juga.”
“Aku tidak melakukan apa-apa.”
“Kamu diam.” Renata menatapnya. Satria mengangkat wajah. “Aku tahu itu sulit.”
Renata diam beberapa detik. Lalu tertawa kecil, tapi suaranya agak patah di ujung. “Sial. Kamu makin pintar.”
“Saya beradaptasi.”
“Bahaya.”
Satria membuka bungkus roti, lalu membaginya dua. Ia menyodorkan separuh kepada Renata. Renata menerimanya. Jari mereka tidak bersentuhan. Keduanya sadar. Keduanya juga sadar bahwa kali ini, menahan diri terasa seperti bentuk lain dari saling menyentuh.
Mereka makan roti di luar gedung, berdiri berjauhan secukupnya, dengan malam Jakarta yang mulai menurunkan gerimis kecil di sekitar mereka. Tidak ada yang mengucapkan kata kencan. Tidak ada yang menyebut hubungan. Tidak ada yang menjanjikan bahwa besok akan lebih mudah.
Tapi ketika gerimis mulai lebih rapat, Satria mengambil langkah kecil ke samping, membuat tubuhnya menahan arah angin agar hujan tidak langsung mengenai Renata. Renata menyadarinya. Ia tidak berkomentar. Hanya menggigit rotinya pelan, menatap jalan, dan membiarkan pria yang masih belum merasa sejajar itu melindunginya dari gerimis kecil dengan cara paling sederhana yang bisa ia berikan malam itu. Kadang, berdampingan memang belum terlihat seperti menggenggam tangan. Kadang, bentuknya hanya seseorang yang bergeser setengah langkah agar kau tidak terlalu basah.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!