Keesokan harinya, Renata benar-benar tidak turun ke lantai sembilan. Satria seharusnya lega. Ia bahkan sudah menyiapkan beberapa versi ekspresi lega yang bisa dipakai sepanjang hari. Versi pertama: wajah datar seperti biasa. Versi kedua: fokus penuh pada laporan. Versi ketiga: sedikit lebih ramah kepada Raka agar pria itu tidak mencurigai apapun.
Sayangnya, tidak ada satu pun yang berhasil. Karena masalah terbesar dari gangguan bukan saat ia datang, melainkan saat ia tiba-tiba berhenti.
Pagi berjalan terlalu normal. Kopi kantor kembali menjadi kopi kantor, pahit dengan aroma plastik gelas yang sedikit lelah. Tidak ada stiker mencurigakan. Tidak ada office boy membawa nampan dari kafe lobi. Tidak ada langkah hak sepatu yang membuat satu lantai pura-pura sibuk. Tidak ada nama Renata di layar ponsel.
Satria menyelesaikan tiga file sebelum jam sebelas. Biasanya itu membuatnya puas. Hari itu, ia hanya merasa seperti pria yang terlalu produktif karena sedang menghindari sesuatu yang tidak ada.
Raka memperhatikan sejak pukul sembilan. Awalnya diam. Lalu pura-pura batuk. Lalu berdiri mengambil air. Lalu kembali. Lalu menatap Satria dengan wajah orang yang menemukan pola dalam data historis.
Satria tidak menoleh. “Kalau bicara, saya pindahkan keyboard-mu ke gudang.”
Raka langsung menutup mulut. Lima menit kemudian, ia membuka mulut lagi. “Filemu sudah selesai banyak sekali.”
“Itu pekerjaan.”
“Iya. Tapi biasanya kamu kerja seperti orang normal. Hari ini seperti orang yang ditinggal tapi tidak mau mengakui.” Satria berhenti mengetik. Raka mengangkat dua tangan. “Observasi. Bukan serangan.”
“Observasimu cacat.”
“Mungkin.” Raka menatap meja Satria, senyumnya muncul pelan. “Tapi Bu Renata belum datang.”
Satria menoleh perlahan. Raka menunjuk buku catatan hitam di sudut meja. Ujung kertas kuning menyembul dari halaman belakangnya.
“Itu cuma catatan,” kata Satria.
“Aku tidak bilang apa-apa.” Raka mengangkat tangan. “Etika kantor.”
Satria mendorong kertas itu lebih dalam ke buku catatan, lalu menutupnya.
Satria menutup mata sebentar. Ia tidak suka dirinya begini. Terlalu mudah terlihat. Terlalu cepat kehilangan kendali hanya karena catatan kecil yang ditulis perempuan yang seharusnya berada jauh di luar jalur hidupnya.
Renata tidak datang. Tidak ada pesan. Tidak ada alasan untuk kacau. Namun tangan Satria beberapa kali bergerak ke ponsel tanpa perintah jelas. Sekali saat istirahat. Sekali sebelum rapat internal. Sekali ketika lift lantai sembilan terbuka dan yang keluar hanya kurir membawa dokumen legal, bukan perempuan dengan senyum berbahaya.
Pukul dua lewat tiga belas, Pak Oka memanggilnya. “Satria, jam empat naik ke lantai tiga belas, ya.” Satria mengangkat wajah terlalu cepat. Pak Oka tidak melihatnya. Ia sedang mencari file di laci meja. “Bu Renata minta ringkasan final asumsi vendor. Saya ada rapat audit internal, jadi kamu saja yang jelaskan. Filenya kamu pegang.”
Dari meja sebelah, Raka perlahan menoleh. Satria tidak bergerak. Pak Oka akhirnya mengangkat wajah. “Ada masalah?”
“Tidak, Pak.”
“Bagus. Jangan terlalu panjang. Bu Renata suka yang langsung inti.”
Raka menunduk, bahunya bergetar. Satria berdiri dari kursinya dengan map di tangan. Pak Oka mengerutkan kening. “Sekarang masih jam dua.” Satria duduk lagi. Pelan.
Raka menutup wajah dengan kedua tangan, kalah oleh tawanya sendiri.
Satria menatap layar laptop, tetapi angka-angka di sana mendadak terlihat seperti sedang mengejeknya. Ia membuka file final. Membaca ulang. Memeriksa ringkasan. Memastikan semua angka benar. Tiga kali. Empat kali. Pada kali kelima, ia sadar ia tidak lagi memeriksa angka, melainkan mencari alasan untuk tidak memikirkan bahwa pukul empat nanti ia akan masuk ke ruang Renata. Ruang Renata. Bukan pantry. Bukan kedai nasi ayam. Bukan lift yang kebetulan terlalu sering menjadi saksi hidup.
Ruang kerja Renata adalah wilayah Renata sepenuhnya. Tempat di mana jabatannya tidak hanya tergantung di kartu akses, tetapi ada di kursi besar, meja rapi, layar ganda, map yang tersusun berdasarkan prioritas, dan mungkin aroma parfumnya yang menetap di dinding.
Satria tidak takut. Ia hanya menyusun kewaspadaan. Sangat banyak. Pukul tiga lewat lima puluh lima, ia berdiri.
Raka tidak berkata apa-apa. Hanya mengangkat tangan kecil, seperti melepas anak ke sekolah pertama. Satria menunjuk wajahnya dengan map. Raka menurunkan tangan.
Lift terasa lebih lambat dari biasanya. Satria menatap angka lantai yang naik satu per satu. Sembilan. Sepuluh. Sebelas. Dua belas. Tiga belas. Pintu terbuka.
Lantai tiga belas lebih sunyi daripada lantai finance. Karpetnya lebih tebal, lampunya lebih hangat, dan orang-orang berjalan dengan suara lebih rendah, seolah di atas sini setiap langkah punya konsekuensi strategis. Beberapa ruang berdinding kaca berjajar. Ada ruang rapat besar, area assistant, dan di ujung koridor, ruangan Renata.
Mila duduk di luar ruangan itu, mengetik cepat. Ia mengangkat wajah ketika Satria mendekat. “Satria?”
“Iya. Pak Oka minta saya menyerahkan ringkasan vendor.”
Mila menatap map di tangan Satria, lalu wajahnya, lalu pintu ruangan Renata. Ada ekspresi singkat yang tidak bisa disebut kasihan, tapi cukup dekat. “Bu Renata sedang menelepon. Tunggu sebentar.”
Satria mengangguk. Ia berdiri di depan meja Mila karena tidak melihat kursi kosong. Mila menunjuk kursi tunggu kecil di samping rak dokumen.
“Duduk. Kalau berdiri begitu, kamu terlihat seperti orang mau sidang.” Satria duduk. Mila kembali mengetik. Beberapa detik kemudian, tanpa mengangkat wajah, ia berkata, “Jangan terlalu tegang. Bu Renata tidak menggigit saat jam kerja.” Satria menatapnya. Mila masih mengetik. “Di luar jam kerja, saya tidak bertanggung jawab.”
Satria menunduk, menatap map. Orang-orang di sekitar Renata ternyata sama berbahayanya.
Dari dalam ruangan, suara Renata terdengar samar. Tidak jelas semua kata-katanya, hanya nadanya. Rendah, tertahan, rapi. Satria tidak bermaksud mendengar. Namun pintu ruangan tidak sepenuhnya kedap suara, dan ada beberapa kalimat yang lolos dalam potongan kecil.
“Ma, aku kerja.” Jeda. “Aku tahu besok malam.” Jeda lebih panjang. “Tidak, aku tidak perlu dijemput.”
Satria menatap lantai. Mila berhenti mengetik sebentar.
Dari dalam, suara Renata terdengar lagi. Kali ini lebih datar. “Kalau Papa ingin mengenalkan seseorang, silakan. Tapi jangan bungkus itu seolah aku butuh diselamatkan dari hidupku sendiri.” Hening. Satria menahan napas tanpa sadar. Lalu terdengar tawa kecil Renata. Tipis. Dipakai bukan karena lucu, melainkan agar sesuatu tidak terdengar patah. “Baik, Ma. Nanti aku datang.” Panggilan terputus tidak lama kemudian.
Mila menunggu beberapa detik, lalu berdiri dan mengetuk pintu. “Bu, Satria sudah datang.”
“Masuk,” suara Renata terdengar dari dalam.
Mila membuka pintu untuk Satria. Ia masuk. Ruang Renata tidak sebesar ruang direksi, tetapi cukup luas untuk menunjukkan bahwa perempuan itu bukan orang biasa di gedung ini. Meja kerja besar menghadap kaca kota. Di sisi kanan ada rak buku dan beberapa map arsip. Di sisi kiri ada sofa kecil warna abu-abu dengan meja rendah. Tidak banyak dekorasi pribadi. Hanya satu bingkai foto keluarga di sudut meja, satu tanaman kecil, dan cangkir kopi yang sudah dingin.
Renata berdiri di dekat jendela, ponsel masih di tangan. Ketika menoleh, wajahnya sudah kembali menjadi wajah yang Satria kenal: tenang, tajam, sedikit terlalu percaya diri. Tapi Satria terlanjur mendengar suara sebelumnya. Dan perempuan itu, sehebat apapun menyusun wajah, tidak sempat menyembunyikan cara ibu jarinya mengusap sisi ponsel berkali-kali.
“Pukul empat tepat,” kata Renata. “Kamu disiplin.”
“Saya takut kalau terlambat, kamu turun ke finance membawa pengeras suara.”
Renata tersenyum. Tidak penuh, tapi cukup hidup.
“Jangan beri aku ide.”
Satria menyerahkan map. “Ringkasan vendor.”
Renata tidak langsung mengambilnya. Ia berjalan ke meja, meletakkan ponsel dengan layar menghadap bawah, lalu duduk. “Jelaskan.” Satria berdiri di depan meja. Renata mengangkat alis. “Duduk.”
“Saya bisa sambil berdiri.”
“Aku tidak sedang butuh demonstrasi ketahanan betis.”
Satria duduk. Renata membuka map. Selama beberapa menit berikutnya, mereka kembali ke bentuk yang paling aman, kerja. Satria menjelaskan asumsi vendor, risiko pembayaran awal, perbandingan skenario, dan batas negosiasi. Renata mendengarkan tanpa memotong terlalu banyak. Sesekali ia mencatat. Sesekali menanyakan detail yang tepat, membuat Satria harus mengakui dalam hati bahwa perempuan ini bukan sekadar pintar memerintah.
Namun ada jeda di antara pertanyaan-pertanyaannya. Jeda yang tidak biasa. Satria melihatnya ketika Renata menatap angka terlalu lama, padahal angka itu sederhana. Melihatnya ketika tangan Renata bergerak ke cangkir kopi dingin, lalu tidak jadi mengambilnya. Melihatnya ketika ponsel di meja menyala lagi, dan Renata membalikkan layar tanpa membaca.
Ia tidak bertanya. Setidaknya, ia mencoba tidak bertanya. “Kenapa?” Renata tiba-tiba berkata.
Satria berhenti menjelaskan. “Apa?”
“Kamu menatapku seperti menemukan error yang tidak ada di spreadsheet.”
Satria menutup map pelan. “Kamu baik-baik saja?”
Renata diam. Pertanyaan itu seperti benda kecil yang diletakkan di meja tanpa izin. Ia tidak langsung menjawab. Ia hanya menyandarkan punggung ke kursi, menatap Satria dengan wajah yang terlalu tenang. Di luar kaca, kota bergerak tanpa mempedulikan satu ruang kerja di lantai tiga belas tempat dua orang sedang berdiri di pinggir sesuatu yang belum mereka namai. “Aku terlihat tidak baik-baik saja?”
“Sedikit.”
“Berarti aku harus latihan lagi.” Satria tidak tersenyum. Renata menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas kecil. Ia mengambil pulpen, mengetuk ujungnya ke map, tapi hanya sekali. Tidak seperti biasanya yang punya ritme. Kali ini bunyinya patah. “Mama mengingatkan makan malam keluarga.”
“Dengan anak kenalan Papa.”
Renata mengangkat alis. “Kamu ingat.”
“Saya anak finance. Saya menyimpan data.”
Renata menatapnya. Lalu tertawa. Singkat, tapi kali ini tidak palsu. “Kamu belajar dari Raka?”
“Saya sedang terkontaminasi lingkungan.”
Renata meletakkan pulpen. “Aku tidak suka dijodohkan. Bukan karena anak itu. Aku bahkan tidak kenal dia. Mungkin dia baik, sopan, punya tabungan sehat, dan tidak membuat orang tuaku perlu menjelaskan apapun saat keluarga besar bertanya.”
Satria menunduk sedikit, melihat tangannya sendiri di atas lutut. Renata memperhatikannya. “Kalimat terakhir mengganggumu?”
“Saya tidak bilang begitu.”
Renata tersenyum tipis, lalu bangkit dari kursi. Ia berjalan ke sisi meja, bersandar ringan di tepinya. Posisi itu membuat jarak mereka berubah. Tidak jauh, tidak juga terlalu dekat. Tapi cukup untuk membuat Satria sadar bahwa ia duduk sementara Renata berdiri di depannya, dan kalau ia bergerak sedikit saja, lututnya mungkin menyentuh sisi meja.
Renata menunduk melihatnya. “Kamu tahu apa yang paling menyebalkan dari orang tua yang baik?” Satria mengangkat wajah. “Mereka bisa menyakitimu tanpa merasa sedang jahat.” Tidak ada komedi dalam kalimat itu. Satria tidak menjawab. Ia membiarkan keheningan bekerja. Renata menatap jendela, bukan Satria. “Mama tidak pernah menyuruhku berhenti bekerja. Papa tidak pernah bilang aku tidak mampu memilih. Mereka bangga, dengan cara mereka. Tapi kebanggaan mereka selalu punya bentuk yang rapi. Anak perempuan yang sukses. Kuat, tapi tetap harus ada laki-laki yang terlihat pantas di sebelahnya. Mandiri, tapi jangan sampai orang lain bertanya kenapa belum diikat siapa pun.” Ia tertawa kecil. Lebih dingin. “Jabatan bisa membuat orang takut padaku di kantor, tapi di meja makan keluarga, aku tetap bisa diringkas menjadi perempuan yang belum memilih laki-laki yang tepat.”
Satria menatapnya. Untuk pertama kalinya, Renata tidak terlihat seperti perempuan yang selalu tahu cara menguasai ruangan. Ia masih cantik. Masih rapi. Masih Renata. Tapi ada retakan kecil di sudut matanya, sesuatu yang tidak jatuh menjadi air mata karena mungkin sudah terlalu sering dilatih untuk pulang ke tempatnya.
Satria menurunkan pandangan. Di dunia Renata, tekanan datang dengan parfum keluarga baik-baik, meja makan mahal, dan kalimat sopan yang sulit dilawan tanpa terlihat kurang ajar.
Di dunianya, tekanan datang dalam bentuk ibu yang menghitung uang belanja dengan suara pelan, ayah yang jarang mengeluh soal punggungnya yang sakit, adik yang berkata tidak butuh apa-apa padahal sepatu sekolahnya mulai menganga. Tekanan mereka berbeda bentuk, tetapi sama-sama menaruh tangan di tengkuk.
“Renata,” katanya akhirnya. Perempuan itu menoleh. “Jangan jadikan saya perlawanan.”
Senyum kecil Renata hilang. Satria tidak mengangkat suara. Justru karena pelan, kalimat itu terasa lebih berat. “Apa maksudmu?”
“Saya tidak mau menjadi orang yang kamu pilih hanya karena orang tuamu mendorongmu ke arah lain.”
Udara di ruangan itu berubah cepat. Bukan marah yang meledak, tetapi sesuatu yang lebih berbahaya karena tertahan.
Renata turun dari sisi meja. Langkahnya pelan, tapi tidak mundur. Ia justru mendekat satu langkah. Lalu satu lagi. Sampai ia berdiri tepat di depan Satria.
Satria bisa saja berdiri. Ia tidak melakukannya.
Renata menatapnya dari atas. “Kalau aku butuh perlawanan, Satria, aku bisa beli mobil merah, pindah ke apartemen yang lebih jauh dari rumah, atau datang ke makan malam keluarga dengan rambut dipotong pendek tanpa memberi kabar. Aku tidak perlu menyeret staf finance baru yang bahkan belum lulus probation.” Satria menelan ludah. “Aku suka kamu sebelum Mama menelepon.” Suara Renata turun, lebih tajam karena tidak keras. “Jangan ambil bagian itu dariku hanya karena kamu takut bagianmu sendiri.”
Kalimat itu mengenai tempat yang terlalu tepat. Satria menatap perempuan di depannya. Renata tidak menangis. Tidak meninggikan suara. Tapi tangannya mengepal sebentar di sisi tubuh, lalu dilepas lagi seolah ia tidak mau satu gestur pun terlihat terlalu jujur.
Satria merasa bersalah. Bukan karena ia sepenuhnya salah. Kekhawatirannya masuk akal. Dunia mereka memang timpang. Renata memang sedang ditekan keluarga. Ia memang punya alasan untuk bertanya apakah dirinya hanya jalan keluar yang kebetulan tersedia.
Tapi cara ia mengatakannya tadi membuat Renata terdengar seperti perempuan yang tidak mampu mengenali pilihannya sendiri. Dan Renata bukan itu. Satria berdiri. Jarak mereka menjadi terlalu dekat begitu ia berdiri. Renata tidak mundur. Satria juga tidak. Beberapa detik, mereka hanya saling menatap, ditemani dengung AC dan suara samar kota dari balik kaca. “Saya minta maaf.” Renata menatapnya tajam. “Karena membuat pilihanmu terdengar seperti reaksi,” lanjut Satria. “Dan karena saya memakai ketakutan sendiri untuk menilai niatmu.”
Wajah Renata tidak langsung melunak. Perempuan itu bukan tipe yang memberi maaf hanya karena ada kalimat rapi. Ia menatap Satria seperti sedang menguji apakah pria itu sungguh mengerti atau hanya ingin memadamkan api sebelum membakar karpet.
Lalu, tanpa aba-aba, Renata mengangkat tangan. Satria menegang. Tangan Renata berhenti di lengan kemejanya, tepat di dekat siku. Sentuhan itu ringan. Tidak menarik. Tidak menahan. Hanya menempel sebentar, hangat melalui kain. “Kamu menyebalkan.”
“Catatan diterima.”
“Jangan terlalu cepat menerima. Aku belum selesai kesal.” Satria diam. Renata menekan ujung jarinya sedikit, bukan untuk menyakiti, lebih seperti memberi tanda bahwa ia masih ada di sana. Bahwa ia marah, tapi belum pergi. Bahwa ia bisa tajam tanpa menjauh. “Dan jangan panggil aku Bu di pesan, di lift, di kepala, atau di situasi apapun yang tidak melibatkan rapat besar.”
Satria mengangkat wajah. “Di kepala juga?”
“Aku bisa tahu.”
“Itu tidak masuk akal.”
“Banyak hal tentangku yang tidak masuk akal. Kamu harus mulai menyesuaikan diri.” Satria hampir tersenyum. Renata melihatnya. “Tahan dulu. Aku masih tersinggung.” Satria menahan wajahnya dengan usaha yang terlihat jelas. Itu membuat Renata justru tersenyum. Ia melepas lengan Satria, lalu menatapnya dari jarak yang masih terlalu dekat untuk orang yang baru selesai bertengkar.
“Kamu selalu terlihat seperti ingin menyelamatkan semua orang dari salah paham,” katanya pelan. “Bahkan saat kamu sendiri yang hampir hancur oleh salah paham itu.”
Satria menatapnya. Renata mengangkat tangan ke dada kemeja Satria, berhenti di atas kain, tidak menekan. Hanya satu titik sentuh yang membuat napas Satria tertahan. “Aku tidak menjadikanmu perlawanan,” katanya. “Aku juga tidak menjadikanmu tangga.”
Satria menatap tangan itu. Di bawah telapak Renata, dadanya berdetak terlalu jelas. “Kamu tidak perlu menjadikan saya apa-apa.”
“Aku tahu.” Renata mengangkat wajah. “Tapi aku boleh menginginkanmu, kan?”
Satria menatapnya. Kali ini tidak ada tawa di wajah Renata. Tidak ada cara untuk membuat kalimat itu terdengar administratif. Satria tidak menjawab. Ia tidak bisa. Karena pertanyaan itu terlalu terang, dan terang seperti itu membuat semua kekurangan dalam dirinya ikut terlihat. Statusnya. Probation-nya. Dompetnya. Kosnya. Cara ia menghitung harga makan. Cara ia masih merasa harus menjelaskan keluarganya sebelum orang lain sempat bertanya.
Renata dengan kenekatannya bisa berkata aku boleh menginginkanmu di ruang kerja, sementara Satria bahkan harus menghitung apakah keinginannya sendiri punya tempat untuk hidup. Itu yang membuatnya jengah dengan cara yang menyedihkan. Bukan karena Renata memalukan. Karena Renata membuatnya sadar betapa ia sering menolak bukan karena tidak mau, melainkan karena terlalu takut tidak sanggup membayar konsekuensinya. “Saya tidak tahu,” katanya akhirnya.
Renata tidak mundur. “Tidak tahu apa?”
“Tidak tahu harus apa kalau kamu menginginkan saya sejelas itu.”
Renata menatapnya beberapa detik. Lalu tangannya turun dari dada Satria. Bagus, pikir Satria. Ia bisa bernapas. Tapi Renata hanya berbalik, mengambil cangkir kopi dinginnya dari meja, lalu menatap isinya dengan wajah hampir tersinggung. “Kopi ini sudah dingin.”
Satria butuh waktu satu detik untuk mengikuti perubahan arah itu. “Apa?”
“Kopi. Dingin.” Renata mengangkat cangkir. “Kamu mengacaukan kemarahanku, lalu sekarang kopiku tidak bisa diminum.”
“Saya yang mengacaukan?”
“Kamu meminta maaf dengan wajah begitu. Tentu saja.”
“Wajah bagaimana?”
“Wajah laki-laki yang seharusnya mudah dimarahi tapi malah sulit ditinggal.”
Satria menatapnya. Renata menatap balik. Lalu, seolah tidak baru saja melempar kalimat yang bisa merusak sistem saraf orang lain, ia menyodorkan cangkir itu. “Buatkan aku kopi.”
Satria melihat cangkir itu, lalu wajah Renata. Ia seharusnya menolak. Ia datang untuk menyerahkan ringkasan vendor. Ia bukan asisten. Bukan pasangan. Bukan siapa-siapa yang punya alasan membuatkan kopi di ruang Renata.
Namun di balik semua argumentasi itu, ada satu hal kecil yang membuatnya kalah: tangan Renata yang tadi mengepal, suara Renata di telepon yang ditahan terlalu rapi, dan kalimat tentang orang tua baik yang bisa menyakiti tanpa merasa jahat.
Satria mengambil cangkir. “Gula?”
“Sedikit.”
“Definisi sedikit?”
“Secukupnya agar hidup tidak terlalu pahit.”
“Itu bukan takaran.”
Renata tersenyum, sedikit kembali menjadi dirinya yang kurang ajar. “Kalau kamu tidak bisa mengurus kopi, bagaimana mau mengurus perasaanku?”
Satria berhenti di depan pintu. Renata tampak puas karena berhasil membuatnya diam di tempat. “Saya akan membuat kopi. Bukan mengajukan proposal merger.”
Satria keluar sebelum menjawab sesuatu yang lebih buruk.
Di luar, Mila menatap cangkir di tangan Satria. Lalu wajah Satria. Lalu pintu ruangan Renata. “Bu Renata menyuruh?”
“Saya yang menawarkan.”
Mila berkedip sekali. Dua kali. “Wah.”
Satria menarik napas. “Pantry?”
Mila menunjuk ke arah kanan. “Gula di toples kaca. Jangan pakai mesin kiri. Itu sering bocor dan membuat orang kehilangan kepercayaan pada hari Senin.”
“Terima kasih.” Satria berjalan ke pantry dengan cangkir Renata di tangan.
Di sepanjang koridor, ia merasa beberapa orang menatapnya. Mungkin tidak sebanyak itu. Mungkin hanya perasaannya. Tapi tetap saja, ada absurditas yang sulit ditertawakan: ia, staf finance baru, membawa cangkir vice manager lantai tiga belas seperti bukti kecil bahwa batas yang ia jaga sejak awal mulai punya celah.
Di pantry, ia membuat kopi dengan hati-hati. Bukan karena takut salah gula. Itu hanya kopi. Tapi tangannya bergerak lebih teliti daripada biasanya, mengaduk pelan, mencicipi sedikit dengan sendok plastik baru, lalu menambahkan air panas. Ia membenci fakta bahwa ia ingin Renata menyukainya. Kopi itu. Atau mungkin bukan hanya kopi itu.
Saat kembali, Mila masih di meja. Ia melirik cangkir, lalu berkata pelan, “Kalau terlalu manis, Bu Renata biasanya tetap minum tapi komentarnya bisa membunuh.”
“Saya mulai paham.”
“Kalau pas, dia tidak akan bilang apa-apa. Itu pujian tertinggi.”
Satria mengangguk seperti baru menerima briefing penting. Ia masuk kembali ke ruang Renata.
Renata sedang membaca dokumen. Ketika Satria meletakkan cangkir di meja, ia tidak langsung mengambilnya. Ia hanya melirik, lalu membaca lagi.
Satria berdiri. Renata membalik halaman. Satria masih berdiri. Akhirnya Renata mengambil cangkir, menyesap sedikit. Diam. Satria menunggu. Renata meletakkan cangkir kembali. “Masih hidup.”
Satria menghela napas, setengah lega, setengah tersinggung. “Itu review paling buruk yang pernah saya terima.”
“Aku belum selesai.” Renata menyesap lagi. Kali ini lebih lama. Lalu ia menatap Satria dari balik bibir cangkir. “Enak.”
Satu kata. Sederhana. Tidak ada tawa. Tidak ada godaan. Aneh, justru karena itu Satria merasa kalimat tersebut masuk lebih dalam. Ia menunduk sedikit. “Bagus.”
Renata meletakkan cangkir, lalu menunjuk sofa kecil di sisi ruangan. “Duduk sebentar.”
“Saya harus kembali.”
“Sepuluh menit,” kata Renata. “Duduk.”
Satria duduk di sofa. Renata tidak kembali ke kursi kerjanya. Ia membawa cangkir kopi lalu duduk di sofa sebelah, tidak terlalu dekat, tapi tetap dalam jarak yang lebih pribadi daripada meja kerja. Map vendor tetap di meja. Pekerjaan mereka sudah selesai. Ini bukan lagi urusan angka. Satria tahu. Renata juga. Beberapa detik, mereka diam.
Renata memutar cangkir di tangannya. “Kamu takut aku menjadikanmu tangga.”
Satria menatap lantai karpet. “Saya takut orang mengira begitu.”
“Bukan hanya orang.” Ia tidak menjawab. Renata menoleh. “Kamu juga takut aku benar-benar begitu.”
Satria mengusap ibu jarinya di sisi map yang masih ia pegang. Ia tidak sadar membawanya sampai ke sofa.
“Saya pernah melihat orang naik karena dekat dengan orang yang tepat,” katanya. “Ada yang menikmatinya. Ada yang tidak sadar. Ada yang sadar tapi pura-pura itu hasil kerja keras. Saya tidak mau jadi salah satunya.”
“Aku tidak menawarkan itu.”
“Saya tahu.”
“Tapi kamu tetap takut.”
Satria tersenyum kecil. Bukan senyum senang. Lebih seperti mengakui kekalahan kecil di hadapan fakta. “Takut tidak selalu menunggu alasan lengkap.”
Renata memandangnya. Kalimat itu menempel di antara mereka. Satria jarang mengatakan sesuatu yang terdengar seperti bagian dalam dirinya. Biasanya ia menyusun kata seperti menyusun laporan: bersih, ringkas, tidak meninggalkan ruang untuk interpretasi. Tapi kali ini ia membiarkan satu kalimat keluar dengan ujung yang tidak rapi.
Renata tidak mengganggu. Ia hanya menurunkan cangkir ke meja kecil. “Kalau aku tertarik padamu,” katanya pelan, “bukan berarti aku ingin memperbaiki hidupmu.” Satria menoleh. “Dan kalau kamu tertarik padaku,” lanjut Renata, kali ini menatapnya langsung, “bukan berarti kamu sedang memanfaatkan hidupku.” Satria tidak berkata apa-apa.
Di luar ruangan, Mila berbicara dengan seseorang. Suaranya terdengar samar. Dunia tidak berhenti, tapi ruang kecil itu terasa menyempit di sekitar mereka.
Renata menyandarkan punggung. “Kita tidak perlu menyelesaikan semua ketimpangan dalam satu minggu. Kamu tidak perlu langsung menggandengku di lobby sambil mengumumkan kemenangan moral. Aku juga tidak perlu turun ke finance setiap hari sambil membawa spanduk.”
Satria meliriknya. “Ada kemungkinan spanduk?”
“Ada, kalau kamu terlalu menyebalkan.”
“Saya akan memperbaiki sikap.”
“Bagus.”
Hening mereka kali ini lebih ringan. Renata menoleh ke arahnya, lalu mengulurkan tangan. Bukan ke wajah. Bukan ke dada. Hanya ke ujung lengan kemeja Satria, yang sedikit terlipat tidak rapi karena tadi ia membuat kopi. Ia membetulkannya dengan dua jari, gerakan kecil, hampir domestik, tapi tetap cukup untuk membuat Satria duduk terlalu tegak. Renata melihat reaksinya. “Bernapas.”
“Saya bernapas.”
“Seperti orang yang sedang melewati pemeriksaan pajak.”
“Saya belum terbiasa lengan saya diaudit langsung oleh vice manager.”
Renata tersenyum. “Ini audit ringan.”
Satria menatap lengan kemejanya yang sudah rapi. Renata belum menarik tangannya. Jarinya masih menyentuh kain sebentar, seakan sengaja memberi waktu bagi Satria untuk menolak. Ia tidak menolak. Renata menarik tangannya sendiri setelah dua detik. Dua detik yang sangat panjang untuk sebuah lengan kemeja.
Satria berdiri sebelum wajahnya mengkhianati lebih jauh. “Saya kembali ke lantai sembilan.”
Renata tidak menahan. Hanya mengangkat cangkir kopinya sedikit. “Terima kasih kopinya.”
“Sama-sama.” Ia berjalan ke pintu.
“Satria.” Ia berhenti. Renata masih duduk di sofa, cangkir di tangan, cahaya sore dari kaca besar jatuh di sisi wajahnya. Untuk sesaat, ia tidak terlihat seperti perempuan yang menabrak hidup orang lain sambil tertawa. Ia terlihat seperti seseorang yang terlalu lama diminta rapi, lalu menemukan celah kecil untuk berantakan tanpa harus meminta maaf. “Besok malam,” katanya, “aku tetap datang ke makan malam keluarga.” Satria menatapnya. “Aku tidak akan memakaimu sebagai alasan untuk menolak.”
Ia mengangguk pelan. “Bagus.”
“Tapi setelah itu,” Renata melanjutkan, wajahnya kembali sedikit menyebalkan, “aku mungkin mengirim pesan untuk mengeluh.”
“Silakan.”
“Kalau aku minta dijemput?”
Satria diam. Renata menyipitkan mata, menunggu. Satria menatap handle pintu. Lalu menjawab dengan suara datar, “Kirim lokasi.”
Renata membeku sebentar. Kecil saja. Tapi cukup. Satria melihatnya. Untuk pertama kalinya hari itu, ia berhasil membuat Renata kehilangan satu detik dari kendalinya. Sebelum perempuan itu bisa membalas, Satria membuka pintu dan keluar.
Mila mengangkat wajah ketika ia lewat. “Sudah selesai?”
Satria mengangguk. “Kopinya aman.”
Mila menatapnya dengan penuh penilaian halus. “Saya tidak tanya kopi.”
Satria terus berjalan. Di dalam ruangan, Renata masih duduk di sofa dengan cangkir di tangan. Pintu sudah tertutup. Satria sudah pergi. Tapi kalimatnya tertinggal.
Kirim lokasi.
Renata menatap cangkir kopinya, lalu tertawa pelan. Tidak keras. Tidak kacau. Tidak seperti tawa yang biasa ia pakai untuk menggoda Satria. Lebih seperti sesuatu yang keluar karena dadanya tiba-tiba terasa kurang sempit.
Mila membuka pintu sedikit. “Bu?”
Renata mengangkat wajah. “Ya?”
“Jam lima ada panggilan dengan Pak Damar.”
“Baik.”
Mila belum pergi. Ia melihat wajah Renata sebentar, lalu berkata hati-hati, “Kopinya pas?”
Renata menatap cangkir di tangannya. “Lumayan,” katanya. Mila mengangguk pelan. Pujian tertinggi.
Di lift menuju lantai sembilan, Satria berdiri sendirian. Ia menatap pantulan dirinya di pintu lift. Wajahnya masih tampak biasa. Kemejanya rapi. Rambutnya tidak berubah. Map di tangannya masih lurus. Tapi di lengan kiri, tempat jari Renata tadi membetulkan lipatan kain, kulitnya masih seperti mengingat sentuhan itu lebih baik daripada otaknya mengingat angka vendor.
Pintu lift terbuka. Raka sudah berdiri di dekat printer, pura-pura mengambil kertas. Satria berjalan melewatinya.
Raka tidak langsung bicara. Mungkin karena wajah Satria cukup serius. Mungkin karena bahkan hama seperti Raka tahu kapan harus memberi ruang. Namun saat Satria duduk, Raka menggeser kursinya sedikit. “Rapatnya lama.”
“Banyak yang dibahas.”
“Vendor?”
“Iya.”
Raka mengangguk. “Kopi?” Satria menoleh tajam. Raka tersenyum kecil. “Tanganmu bau kopi.” Satria melihat tangannya sendiri. Sial. Raka tidak tertawa. Kali ini, suaranya justru lebih rendah. “Hati-hati, Mas.”
Kalimat itu membuat Satria berhenti. Ia menatap Raka, menunggu candaan berikutnya. Tidak ada. Raka hanya menatap layar laptopnya, membuka file kerja seolah percakapan sudah selesai. Untuk pertama kalinya, pria itu terdengar bukan seperti pengedar gosip, melainkan teman satu meja yang cukup tahu bahwa kantor bisa berubah menjadi tempat kasar saat dua orang dari lantai berbeda mulai berjalan terlalu dekat.
Satria tidak menjawab. Ia hanya kembali ke pekerjaannya.
Malamnya, ponsel Satria bergetar pukul delapan lewat tiga puluh dua.
Renata.
Kopi buatanmu lebih enak daripada mesin pantry.
Satria membaca pesan itu sambil duduk di kamar kos, sepiring nasi telur di meja lipat. Ia mengetik:
Mesinnya bocor. Standarnya rendah.
Balasan Renata datang cepat.
Tetap saja enak.
Satria menatap layar. Lalu menulis:
Jangan tidur terlalu malam. Besok makan malam keluarga. Kamu butuh tenaga untuk terlihat rapi sambil kesal.
Balasan tidak langsung datang. Satria meletakkan ponsel, mengambil sendok, baru satu suap ketika layar menyala lagi.
Kamu perhatian atau sedang mengejek?
Satria menatap pesan itu. Ia mengetik pelan.
Dua-duanya.
Kali ini balasan Renata hanya satu.
Berbahaya. Kamu mulai belajar.
Satria menyimpan ponsel. Ia makan dalam diam. Di luar kamar, suara penghuni kos lain naik turun. Ada televisi dari ruang tengah, suara motor lewat, pintu kamar seseorang ditutup terlalu keras. Hidupnya tetap sama. Sederhana, sempit, cukup, dan penuh hitungan kecil.
Tapi di halaman belakang buku catatan hitamnya, ada sticky note Renata. Di lengan kemejanya tadi sore, ada bekas lipatan yang sudah rapi. Dan di kepalanya, ada satu kalimat yang ia ucapkan tanpa sempat ia batalkan.
Kirim lokasi.
Satria menghabiskan nasinya pelan-pelan. Lalu, untuk alasan yang tidak ingin ia jelaskan bahkan kepada dirinya sendiri, ia memastikan saldo dompet digitalnya cukup untuk ongkos taksi malam besok.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!