Renata datang ke makan malam keluarga dengan gaun hitam sederhana, sepatu hak yang cukup tajam untuk mengingatkan siapapun agar tidak menginjak batasnya, dan senyum yang sudah ia pilih sejak di mobil.
Senyum nomor tiga. Tidak terlalu hangat, supaya Mama tidak mengira ia menyerah. Tidak terlalu dingin, supaya Papa tidak menghela napas sebelum makanan pembuka datang. Cukup sopan untuk menahan perang kecil di balik meja makan, cukup rapi untuk membuat siapapun yang baru pertama kali bertemu dengannya berpikir Renata Maharani adalah perempuan dewasa yang tahu cara membawa diri.
Padahal di dalam kepalanya, ia sudah menyiapkan beberapa jalur evakuasi. Pura-pura ada panggilan penting dari kantor. Meminta Mila menelepon dengan alasan dokumen urgent. Atau, pilihan paling berbahaya, mengirim pesan kepada Satria dan menagih kalimat yang sejak kemarin tinggal terlalu lama di kepalanya.
Kirim lokasi.
Satria mengatakannya seperti arahan teknis, bukan seperti pria yang baru saja menawarkan kemungkinan menjemput perempuan yang sedang dikalahkan makan malam keluarga. Datar. Ringkas. Tidak romantis. Justru karena itu, kalimatnya sulit diusir.
Renata turun dari mobil ketika driver membukakan pintu. Restoran itu berada di salah satu hotel besar di pusat kota. Lantainya mengilap, lampunya hangat, aromanya mahal. Jenis tempat yang membuat percakapan biasa terdengar seperti transaksi bisnis, dan transaksi bisnis terdengar seperti lamaran terselubung.
Renata mengenal tempat seperti ini sejak kecil. Ia tumbuh bersama meja yang terlalu besar, gelas air yang diisi sebelum kosong, dan pelayan yang mengingat nama keluarganya lebih cepat daripada ia mengingat menu.
Di depan pintu restoran, Mama sudah menunggu. Larasati Maharani berdiri dengan tas kecil di tangan, rambut disanggul rapi, wajahnya tenang seperti perempuan yang pernah memimpin rapat kredit dengan nominal lebih besar daripada harga diri banyak orang. Di sebelahnya, Bima, ayah Renata, sedang berbicara di telepon. Wajah Papa lebih ramah, tetapi Renata tahu kelembutan pria itu sering kali hanya jalan memutar menuju kehendak yang sama kerasnya. “Mama kira kamu telat.”
Renata mencium pipi ibunya singkat. “Masih tujuh menit sebelum jam tujuh.”
“Kalau datang tepat waktu, itu artinya orang lain sudah menunggu.”
“Aku akan menulisnya di buku pengembangan diri.”
Mama menatapnya. Renata tersenyum nomor tiga.
Papa menutup telepon lalu mendekat. “Kamu cantik.”
“Terima kasih, Pa.”
“Jangan tegang. Ini cuma makan malam.”
Renata menatap ayahnya. “Kalimat itu selalu keluar sebelum sesuatu menjadi tidak cuma makan malam.”
Papa tertawa kecil, seolah Renata melucu. Mama tidak tertawa, karena Mama terlalu paham anaknya sedang memasang pagar. Meja sudah disiapkan di sisi dalam restoran, agak jauh dari keramaian. Ada sepasang suami istri yang berdiri ketika mereka datang. Lalu seorang pria sekitar pertengahan tiga puluhan ikut berdiri dari kursinya.
Renata mengenal tipe itu. Kemeja putih yang jatuhnya terlalu pas untuk disebut kebetulan. Jam mahal yang tidak dipamerkan tapi cukup terlihat. Rambut rapi. Senyum terukur. Cara berdiri yang mengisyaratkan bahwa ia terbiasa diterima sebelum bicara banyak.
“Renata,” kata Papa, “ini Tante Livia, Om Hartono, dan putra mereka, Adrian.”
Adrian mengulurkan tangan. “Akhirnya ketemu juga.”
Renata menyambut uluran itu. Jabatannya tidak terlalu lama. Tidak terlalu singkat. “Renata.”
“Aku sering dengar tentangmu.”
“Aku harap bagian yang masih bisa dituntut secara hukum tidak terlalu banyak.”
Adrian tertawa. Papa tertawa. Om Hartono ikut tertawa karena semua orang yang punya kepentingan bisnis biasanya pandai membaca kapan harus ikut tertawa.
Mama tidak tertawa, tetapi sudut bibirnya bergerak sedikit. Entah bangga, entah memperingatkan Renata agar tidak mulai menggali kuburan sosial sebelum sup datang.
Percakapan dimulai dari hal-hal aman: kabar bisnis, kondisi pasar, perkembangan properti, lalu bergeser ke pekerjaan Adrian di Singapura. Adrian bicara cukup baik. Tidak sombong secara kasar. Tidak memotong pembicaraan. Tidak menertawakan hal yang tidak lucu terlalu lama.
Jika Renata ingin jujur, pria itu tidak menyebalkan. Itu justru membuat keadaan lebih melelahkan. Orang yang menyebalkan mudah ditolak. Orang yang baik-baik saja membutuhkan tenaga ekstra, karena penolakan terhadap mereka selalu membuat pihak lain bertanya, kurangnya apa?
“Renata sekarang vice manager,” kata Papa, seolah Renata adalah portofolio yang patut dipresentasikan.
Adrian mengangguk. “Tekanannya pasti besar.”
“Lumayan.”
“Tapi kamu terlihat menikmati.”
Renata mengangkat gelas air. “Itu karena aku dibayar untuk tidak terlihat menderita.”
Adrian tersenyum, lalu tertawa lebih tulus.
Di bawah meja, ponsel Renata menyala. Ia melirik sekilas. Tidak ada pesan dari Satria. Pria itu bukan tipe yang mengirim pesan duluan tanpa alasan jelas. Bahkan kalau dunia runtuh pun mungkin Satria akan menunggu formulir pengajuan komunikasi disetujui oleh harga dirinya sendiri. Renata menyimpan ponsel kembali.
Mama melihat gerakan itu. “Kerjaan?”
“Bukan.”
“Bagus. Malam ini jangan terlalu sibuk dengan kantor.”
Renata memotong makanan di piring. “Kalau begitu malam ini kita tidak membahas pekerjaanku sebagai bahan jualan.”
Papa berdehem pelan. Adrian menunduk untuk minum, mungkin pura-pura tidak mendengar. Tante Livia tersenyum dengan kaku yang halus. Om Hartono segera mengalihkan pembicaraan ke menu utama.
Mama menatap Renata, tatapannya tidak tajam, tetapi cukup untuk mengingatkan masa kecil Renata: duduk tegak, jangan bicara terlalu cepat, jangan membuat orang lain tidak nyaman hanya karena kau bisa.
Renata menahan napas pelan. Ia datang untuk tidak memakai Satria sebagai alasan. Ia juga tidak datang untuk menyerahkan lehernya begitu saja.
Makan malam berlangsung hampir dua jam. Adrian beberapa kali mencoba bicara langsung kepadanya. Renata menjawab. Tidak kasar. Tidak hangat. Cukup. Ia tahu Adrian menyadari jarak itu, dan pria itu cukup pintar untuk tidak memaksanya.
Justru ketika makanan penutup datang, Adrian menurunkan suara. “Kamu tidak nyaman.”
Renata berhenti mengaduk teh. Untuk pertama kalinya malam itu, ia benar-benar menatap Adrian sebagai manusia, bukan bagian dari rencana orang tuanya. “Sejujurnya?”
“Boleh.”
“Aku tidak suka makan malam yang sudah punya agenda sebelum aku duduk.”
Adrian tersenyum kecil, kali ini tanpa lapisan. “Aku juga.”
Renata mengangkat alis.
“Orang tuaku bilang ini cuma makan malam. Kalau kalimat itu keluar, biasanya kita sedang masuk tahap awal perjanjian tidak tertulis.” Renata hampir tertawa. Adrian bersandar sedikit. “Aku tidak berniat mengejarmu kalau kamu tidak tertarik. Aku cuma perlu hadir supaya ibuku berhenti mengirim foto profil LinkedInmu ke grup keluarga.”
Renata menatapnya dua detik. Lalu tawanya keluar, pendek dan tidak terlalu keras, tapi cukup membuat Mama menoleh dari pembicaraannya dengan Tante Livia. Adrian mengangkat gelas air sedikit, seperti memberi salam damai. Renata mengangguk kecil. Setidaknya pria ini bukan musuh. Namun itu tidak mengubah apapun.
Ketika makan malam selesai, orang tua mereka masih berbicara di lobby restoran. Mama dan Tante Livia seperti belum selesai menimbang kemungkinan masa depan yang tidak diminta dua orang anak mereka. Papa dan Om Hartono membahas peluang kerja sama dengan nada terlalu santai untuk sesuatu yang jelas-jelas disimpan sejak lama.
Adrian berdiri di samping Renata, jaraknya sopan. “Kalau nanti orang tua kita minta bertukar nomor,” katanya pelan, “kamu boleh bilang sudah punya.”
Renata menoleh. “Nomormu?”
“Bukan. Nomor orang yang kamu tunggu pesannya sejak tadi.”
Renata diam. Adrian tersenyum kecil. “Aku kerja di investasi. Membaca gestur orang yang menunggu kabar buruk atau kabar yang pura-pura tidak ditunggu itu bagian dari pekerjaan.”
Renata memasukkan ponsel ke tas. “Kamu mengamati terlalu banyak.”
“Kebiasaan buruk.”
“Orang itu bukan kabar buruk.”
“Berarti kabar yang pura-pura tidak kamu tunggu.” Renata tidak menjawab. Adrian cukup bijak untuk tidak mendorong lebih jauh. Ia hanya berkata, “Semoga orangnya tidak terlalu bodoh.”
Renata menatap kaca lobby yang memantulkan wajahnya sendiri. “Dia cukup pintar untuk membuatku kesal.”
“Berarti masih ada harapan.”
Di sisi lain lobby, Mama memanggil mereka. Pertukaran basa-basi pamungkas terjadi. Tersenyum, berjabat tangan, berjanji bertemu lagi tanpa siapapun benar-benar menandatangani apapun. Adrian memainkan perannya dengan baik. Renata juga.
Ketika keluarga Adrian pergi lebih dulu, Mama berdiri di samping Renata.
“Adrian baik.”
Renata melihat bayangan ibunya di kaca. “Iya.”
“Mapan.”
“Iya.”
“Cara bicaranya juga enak.”
“Iya.”
Mama menoleh. “Kamu tidak tertarik.”
Renata akhirnya menatap ibunya. “Tidak.”
Papa yang baru selesai mengatur mobil ikut diam. Mama tidak marah. Ia hanya menghela napas pelan. “Renata, Mama tidak sedang memaksa.”
“Kalau ini bukan paksaan, bentuknya sangat mirip.”
“Mama ingin kamu punya pilihan yang baik.”
“Aku punya pilihan.”
Mama menatapnya lebih dalam. “Siapa?”
Pertanyaan itu datang seperti pisau kecil yang dibungkus sapu tangan. Renata bisa berbohong. Bisa menghindar. Bisa berkata belum ada siapa-siapa. Bisa menyimpan Satria di luar percakapan ini seperti janji yang belum siap terkena cahaya.
Tapi yang keluar dari mulutnya justru, “Ada seseorang.”
Papa menatapnya. Mama diam cukup lama. “Dari kantor?”
Renata tidak suka betapa cepat ibunya membaca. “Iya.”
“Level?”
Renata tertawa kecil. Bukan karena lucu. Karena sakitnya terlalu rapi. “Mama bahkan belum tanya namanya.”
“Nama bisa menyusul. Yang pertama harus Mama tahu, apakah dia bisa berdiri di sampingmu tanpa hancur.”
Renata menatap ibunya. “Atau tanpa membuat Mama malu?”
Wajah Mama mengeras sedikit. Papa menyentuh lengan Mama pelan. “Laras.”
Renata langsung menyesal, tapi tidak menarik kalimatnya. Ia lelah dipahami hanya di bagian yang mudah dibanggakan.
Mama menatapnya lama. “Mama tidak pernah malu padamu,” katanya akhirnya, suara rendah. Renata diam. “Tapi dunia tidak sebaik yang kamu kira hanya karena kamu kuat. Orang bisa memelintir pilihanmu. Orang bisa menyakitinya. Orang bisa menyakitimu lewat dia.”
“Aku tahu.”
“Kalau tahu, jangan bermain-main.”
“Aku tidak bermain-main.”
“Dia siapa?”
Renata menatap lantai lobby yang mengilap. Di sana, bayangan sepatu haknya tampak terlalu rapi untuk perempuan yang dadanya sedang berantakan. “Belum saatnya.”
Mama menghela napas. Papa menatap Renata dengan wajah lebih lembut, tetapi tetap menyimpan cemas. “Kalau memang ada, bawa dia suatu hari. Bukan untuk dihakimi.” Renata menatap ayahnya. Papa tersenyum kecil. “Untuk dilihat apakah dia cukup berani makan satu meja dengan ibumu.”
Mama menoleh tajam. “Mas.”
Renata hampir tertawa, tapi tertahannya membuat dadanya lebih sesak. Ia tidak ingin membayangkan Satria duduk di meja makan keluarga ini sekarang. Pria itu mungkin akan duduk terlalu tegak, menjawab terlalu sopan, menghitung harga makanan dalam diam, lalu pulang dengan keyakinan bahwa dirinya memang belum cukup. Renata tidak ingin memberinya itu.
Papa dan Mama masuk ke mobil mereka. Renata menolak ikut pulang bersama. Ia bilang masih ingin mampir sebentar. Mama tidak suka, tapi tidak menahan. Mungkin karena ia tahu kalau Renata sudah memasang wajah itu, menahan hanya akan membuat anaknya menjauh lebih cepat.
Mobil orang tuanya pergi meninggalkan lobby hotel yang masih terlalu terang. Renata berdiri sendirian beberapa detik. Lalu mengambil ponsel. Ia membuka chat Satria. Menatap layar kosong. Mengetik. Menghapus. Mengetik lagi.
Aku selesai.
Ia mengirim.
Lima detik. Sepuluh detik. Dua puluh. Balasan masuk.
Kamu baik-baik saja?
Renata menggigit bagian dalam pipinya. Pria ini benar-benar tahu cara bertanya tanpa menghancurkan pertahanan. Ia mengetik:
Aku tidak minta dijemput.
Balasan Satria datang setelah beberapa detik.
Kamu mengirim pesan setelah makan malam keluarga untuk memberi tahu bahwa kamu tidak minta dijemput?
Renata hampir tertawa di lobby hotel.
Aku hanya menginformasikan status.
Status diterima.
Renata menatap layar. Kesal. Manis. Menyebalkan. Ia mengetik lagi:
Tapi kamu pernah bilang kirim lokasi.
Kali ini balasan tidak langsung datang. Renata menunggu sambil menatap kaca lobby. Ia bisa membayangkan Satria di kamar kosnya, mungkin duduk di meja lipat, mungkin menatap pesan itu dengan wajah datar di luar dan rapat darurat di dalam. Lalu pesan masuk.
Kirim.
Renata menahan senyum. Ia membagikan lokasi. Lima menit kemudian:
Saya berangkat.
Renata duduk di sofa lobby, meletakkan tas di pangkuan, dan untuk pertama kalinya malam itu, bahunya turun sedikit. Tidak ada yang berubah. Tidak benar-benar berubah.
Satria belum sejajar dengannya. Mereka bahkan belum menyebut hubungan itu apa. Orang tuanya belum tahu nama. Dunia mereka masih terlalu jauh. Besok pagi, gedung kantor masih akan punya lift, lantai, jabatan, dan mulut orang-orang yang tidak bisa dikunci.
Tapi malam itu, Satria berangkat. Dan kadang-kadang, manusia yang terlalu lelah tidak butuh solusi besar. Hanya butuh seseorang benar-benar bergerak setelah berkata akan datang.
Satria tiba tiga puluh menit kemudian. Renata tahu bahkan sebelum melihatnya masuk. Mungkin karena ia sudah menunggu terlalu fokus. Mungkin karena Satria punya cara berjalan yang tidak tergesa, tapi tidak lambat. Ia muncul di pintu lobby hotel dengan kemeja lengan pendek warna putih yang sudah agak kusut karena perjalanan, celana panjang gelap, dan wajah yang jelas-jelas sedang menyusun seribu alasan kenapa ini bukan tindakan impulsif.
Ia turun dari taksi online dan sempat berdiri satu detik di depan hotel seperti pria yang sedang memastikan dirinya tidak salah masuk dunia. Lalu ia melihat Renata. Langkahnya berhenti sebentar. Renata tahu penampilannya malam itu berbeda dari kantor. Gaunnya sederhana, tapi tetap bukan pakaian yang biasa Satria lihat saat ia turun ke finance membawa map dan kekacauan. Rambutnya jatuh di bahu. Lipstiknya sudah sedikit pudar setelah makan malam, tetapi mungkin justru membuat wajahnya tidak setajam biasanya. Satria berjalan mendekat.
“Datang juga.”
“Kamu kirim lokasi.”
“Aku bisa saja hanya menguji.”
“Saya sudah mempertimbangkan kemungkinan itu.”
“Dan tetap datang?”
Satria menatapnya. “Saya sudah terlanjur pesan taksi.”
Renata tertawa. Tawa itu membuat sesuatu di wajah Satria berubah. Tidak besar. Hanya matanya yang sedikit melunak, seolah ia lega karena Renata masih bisa tertawa. “Kamu sudah makan?”
“Sudah.”
“Nasi telur?” Satria diam. Renata tersenyum menang. “Aku benar.”
“Kamu menebak makanan paling ekonomis di malam kerja. Itu bukan keajaiban.”
“Aku belum makan dengan benar.”
Satria mengerutkan kening. “Tadi makan malam.”
“Aku hadir di makan malam. Itu berbeda.”
Satria menatapnya lama, lalu menghela napas. “Mau makan apa?”
Renata berdiri dari sofa. “Ada restoran di hotel ini yang dessert-nya enak.”
Satria menatapnya seperti Renata baru saja menyarankan mereka membeli pulau kecil. “Di sini?”
“Iya.”
Satria tidak menjawab. Tangannya sudah masuk ke saku, menyentuh dompet.
Satria tampak ingin mundur setengah langkah, tetapi Renata sudah bergerak mendekat, menyentuh ringan lengan bawahnya dengan ujung jari. “Tenang. Aku yang bayar.” Wajah Satria langsung berubah. Renata melepas sentuhan itu sebelum ia sempat menegang terlalu jauh. “Satria,” katanya lebih pelan, “aku lapar. Aku lelah. Aku tidak sedang menguji kemampuan finansialmu malam ini.”
“Saya tahu.”
“Tapi kamu tetap terganggu.”
Satria melihat ke arah restoran di sisi lobby. Lampunya hangat. Meja-mejanya tertata terlalu indah. Pelayan berdiri di pintu dengan seragam rapi. Tempat itu bukan sekadar mahal. Tempat itu seperti pengingat bahwa Renata bisa masuk ke dunia seperti ini tanpa berpikir, sementara Satria harus memeriksa saldo sebelum menerima ajakan makan.
“Bukan soal bayarnya saja,” kata Satria. Renata diam. “Kamu akan merasa saya berlebihan.”
“Mungkin.” Renata menatap restoran itu, lalu kembali padanya. “Tapi aku tetap ingin mendengarnya.”
Satria menatap restoran itu lagi. “Di tempat seperti ini, saya selalu merasa seperti orang yang salah masuk. Bahkan kalau tidak ada yang mengusir.”
Renata tidak tersenyum. Ia bisa berkata Satria terlalu sensitif. Bisa berkata tidak ada yang peduli. Bisa berkata ia harus lebih percaya diri. Semua kalimat itu mudah, dan semuanya salah tempat. Karena Renata pernah merasa salah masuk di meja makan keluarganya sendiri, meski semua orang di sana membawa nama belakang yang sama dengannya. “Kalau begitu kita pergi,” katanya.
Satria menatapnya. “Ke mana?”
“Kamu yang pilih.”
“Ini sudah malam.”
“Justru. Pilihan makan murah lebih terbatas. Kamu harus cepat berpikir.” Satria masih diam, mungkin tidak menyangka ia akan menyerah semudah itu. Renata mengambil tasnya dari sofa. “Ayo.”
“Kamu tidak mau dessert?”
“Kalau aku masih lapar setelah makan di tempat pilihanmu, kamu boleh membelikanku roti di minimarket.”
“Itu kompromi yang sangat turun kelas.”
“Jangan menghina roti minimarket. Dia menyelamatkan banyak orang lembur.”
Satria menatapnya dua detik. Lalu senyumnya muncul. Renata merasa malamnya lebih bisa dimaafkan.
Mereka keluar dari hotel. Satria memesan taksi lain, tapi Renata menahan tangannya. “Aku ada mobil.”
“Saya tahu.”
“Kita pakai mobilku.”
“Sopirmu?”
“Sudah kusuruh pulang.”
Satria menatapnya. “Kamu menyetir sendiri dengan gaun begitu?”
Renata mengangkat alis. “Gaun ini tidak mencabut SIM-ku.”
Satria langsung merapikan posisi ponselnya, seolah benda itu tiba-tiba butuh diperhatikan. Renata tertawa kecil, lalu berjalan menuju area parkir.
Mobil Renata hitam, bersih, dan jelas tidak dibeli dengan prinsip yang penting jalan. Satria duduk di kursi penumpang dengan hati-hati, seperti takut bernapas terlalu keras bisa menambah biaya servis.
Renata melihatnya saat memasang sabuk pengaman. “Mobil ini tidak terbuat dari kaca emosional. Duduk biasa saja.”
“Saya duduk biasa.”
“Kamu duduk seperti sedang mengikuti tes kepribadian.”
Satria mencoba rileks. Hasilnya justru terlihat lebih kaku. Renata menyalakan mesin sambil tertawa pelan.
Satria memilih tempat makan dua puluh menit dari hotel. Bukan warteg, karena ia tampaknya punya belas kasihan terhadap gaun Renata. Bukan restoran mahal, karena harga dirinya punya batas. Mereka berhenti di tempat makan soto yang masih buka, cukup ramai oleh pekerja malam, sopir taksi, beberapa mahasiswa, dan orang-orang yang terlihat terlalu lelah untuk peduli siapa yang duduk di meja sebelah.
Renata masuk tanpa ragu. Ibu penjual menatap gaunnya sebentar, lalu berkata, “Mbak, hati-hati lantainya agak licin.”
Renata tersenyum. “Makasih, Bu.”
Satria memilih meja di sudut. Renata duduk, meletakkan tas di pangkuan, lalu melihat sekeliling dengan mata yang tidak menilai. Ia hanya hadir. Itu membuat Satria, sekali lagi, kehilangan satu alasan untuk menjaga jarak terlalu keras. “Mau apa?” tanyanya.
“Yang kamu pesan.”
“Selera kita belum tentu sama.”
“Kalau tidak enak, aku menyalahkanmu.”
“Sangat adil.”
Satria memesan dua porsi soto ayam, nasi putih, dan teh hangat. Saat makanan datang, Renata makan dengan sungguh-sungguh. Bukan sedikit-sedikit demi citra. Bukan menyentuh makanan seperti orang yang sedang melakukan kunjungan sosial. Ia makan karena lapar, meniup sup yang masih panas, mengambil sambal terlalu banyak lalu berhenti dengan wajah menyesal.
Satria melihat itu. Renata menatapnya sambil memegang sendok. “Apa?”
“Kamu kebanyakan sambal.”
“Aku tahu.”
“Kenapa tetap diambil?”
“Karena aku terlalu percaya diri.”
“Itu masalah berulang dalam hidupmu.”
Renata tertawa, lalu batuk kecil karena pedas. Satria langsung mendorong teh hangat ke arahnya. Renata mengambil gelas itu, minum sedikit, lalu menatapnya dari balik uap teh. “Perhatian.”
“Pertolongan pertama.”
“Beda nama, fungsi sama.”
“Saya mencegahmu batuk sampai menarik perhatian.”
“Aku sudah menarik perhatian sejak masuk dengan gaun hitam di warung soto.”
“Itu juga benar.”
Renata mengaduk supnya dan tidak menambah apa-apa. Ia membiarkan Satria makan, membiarkan pria itu menata lagi wajah datarnya yang sejak tadi terus dirusak oleh hal-hal kecil. Di bawah lampu putih tempat makan sederhana itu, dengan gaun hitam yang tidak cocok dengan meja plastik, Renata terlihat jauh dari dunianya dan justru lebih dekat pada sesuatu yang membuat Satria sulit berpaling.
Ia terlalu terang. Terlalu berani. Terlalu mudah membuat orang merasa dipilih sampai lupa bahwa pilihan semacam itu punya harga. Dan Satria, dengan seluruh hidup yang ia hitung perlahan, merasa jengah bukan karena Renata memujinya. Ia jengah karena setiap pujian Renata seperti menarik bagian dirinya keluar dari tempat sempit yang selama ini ia sebut aman.
Malam bergerak lebih ringan setelah itu. Mereka tidak membahas keluarga beberapa menit. Tidak membahas jabatan. Tidak membahas kantor. Satria bercerita sedikit tentang makanan di dekat kosnya yang murah tapi bersih. Renata bercerita tentang makanan hotel yang kadang tampak indah tapi membuatnya ingin mencari mi instan setelah pulang.
Lalu Renata, dengan cara yang selalu membuat percakapan berubah arah tanpa lampu sein, berkata, “Mama bertanya siapa kamu.” Sendok Satria berhenti. Renata tidak menatapnya. Ia mengaduk sup di mangkuk kecil. “Aku tidak menyebut namamu.”
Satria meletakkan sendok. “Bagus.” Renata menoleh. “Saya belum siap menjadi bahan analisis mantan manajer bank.”
Renata tertawa pendek. “Kamu memang harus takut.”
“Saya sudah takut sebelum bertemu.”
“Mama tidak seburuk itu.” Satria melihat jeda kecil sebelum kalimat itu selesai. Renata tersenyum, tapi kali ini ada lelahnya. “Mama hanya rapi. Terlalu rapi. Dia mencintai dengan checklist.”
Satria mengambil tisu, melipatnya sekali, lalu meletakkannya dekat mangkuk Renata. Gestur kecil. Tidak dramatis. Tapi Renata melihatnya, dan untuk beberapa detik, ia lupa kalimat yang ingin ia ucapkan. “Papa?”
“Lebih lunak. Tapi lunak bukan berarti tidak keras.” Renata menyandarkan punggung ke kursi plastik. “Dia bilang suatu hari aku boleh membawa orang itu. Bukan untuk dihakimi, katanya.”
“Lalu?”
“Untuk dilihat apakah cukup berani makan satu meja dengan Mama.” Satria menatap piringnya. Renata memperhatikannya. “Kamu pucat.”
“Saya sedang menghitung risiko.”
“Sebagai anak finance?”
“Sebagai manusia yang ingin hidup.” Renata tertawa. Tawa itu membuat Satria berani mengangkat wajah. “Jangan buru-buru membawa saya ke dunia kamu,” katanya pelan.
Tawa Renata berhenti, tapi wajahnya tidak mengeras.
“Bukan karena saya tidak mau tahu. Tapi kalau saya masuk terlalu cepat, saya mungkin akan sibuk merasa kecil.” Satria merapikan tisu yang sebenarnya sudah rapi. “Dan kalau saya sibuk merasa kecil, saya bisa menjadi menyebalkan.”
“Kamu sudah menyebalkan.”
“Lebih menyebalkan.”
“Menarik.”
Satria menatapnya cukup lama sampai Renata menurunkan senyum. “Saya tidak ingin kamu merasa harus menurunkan dunia kamu agar saya nyaman. Tapi saya juga tidak bisa pura-pura semua itu mudah.”
Renata menatap teh hangatnya. Ada satu bagian dari dirinya yang ingin langsung menjawab, aku tidak menurunkan apapun. Ada bagian lain yang ingin berkata, kalau kamu mau, aku bisa masuk ke duniamu juga. Tapi keduanya terasa terlalu cepat, terlalu bersih, terlalu mirip janji yang belum diuji.
Maka ia hanya mengambil tisu yang tadi diletakkan Satria, menekannya sebentar di sudut bibir, lalu berkata, “Aku tidak akan menyeretmu.” Satria menatapnya. “Tidak ke keluargaku. Tidak ke restoran mahal. Tidak ke tempat yang membuatmu merasa harus membayar dengan harga diri.” Renata menaruh tisu di meja. “Tapi jangan mengusirku setiap kali aku mencoba duduk di sebelahmu.”
Satria diam. Renata mengulurkan tangan ke arah piringnya, mengambil potongan ayam kecil yang belum ia sentuh. Satria menatap tangannya. “Itu ayam saya.”
“Aku tahu.”
“Kamu baru membuat perjanjian emosional lalu mencuri ayam saya.”
“Agar suasana tidak terlalu berat.”
“Sangat dewasa.”
Renata memakan ayam itu dengan wajah puas. Satria menghela napas, tapi kali ini senyumnya tidak sempat ia sembunyikan.
Setelah makan selesai, Satria bergerak cepat ke kasir. Renata sudah menduganya. Ia berdiri juga, tapi tidak menghalangi. Ia membiarkan Satria membayar. Harganya masuk akal. Masih cukup untuk membuatnya tidak merasa sedang diberi hadiah yang tak bisa ia balas.
Ketika ia kembali, Renata berdiri di dekat meja sambil memegang tas. “Aku bayar parkir.”
Satria menatapnya. “Parkir di sini dua ribu.”
“Bagus. Aku sedang hemat.”
Satria menatap langit-langit tempat makan. Renata berjalan lebih dulu sambil tersenyum.
Di parkiran, udara malam lebih lembab. Jalanan tidak seterang lobby hotel, tapi Renata merasa lebih mudah bernapas di sini. Tidak ada orang tua yang mengukur masa depan. Tidak ada Adrian yang baik tapi tidak ia inginkan. Tidak ada pelayan menuang air dengan sopan seolah setiap gelas adalah bagian dari kontrak sosial. Hanya Satria, yang berjalan di sebelahnya dengan kemeja sederhana dan wajah yang mulai sedikit lelah.
Renata membuka pintu mobil, lalu berhenti. “Satria.” Ia menoleh. “Terima kasih sudah datang.”
Satria memasukkan tangan ke saku celana. “Kamu kirim lokasi.”
“Aku tahu.” Renata menatapnya. “Tapi tetap saja.”
Satria tidak langsung menjawab. Lampu parkiran jatuh di sisi wajahnya, membuat garis rahangnya tampak lebih tegas, matanya lebih gelap. Ia terlihat bukan seperti pria yang siap masuk ke hidup Renata. Belum. Tapi ia terlihat seperti pria yang sudah berdiri di depan pintu dan tidak langsung pergi. “Sama-sama,” katanya akhirnya.
Renata tersenyum. Lalu, karena ia tetap Renata, ia melangkah mendekat dan merapikan kerah kemeja Satria yang sebenarnya tidak terlalu berantakan. Satria menegang. Renata melihatnya, tetapi tidak berhenti.
Satria menatapnya dengan wajah putus asa yang mulai akrab. Renata tertawa pelan, tetapi tangannya tidak langsung turun. Jarinya berada di dekat leher Satria, tidak menyentuh kulit, hanya kain. Namun jarak itu cukup membuat malam terasa lebih hening daripada sebelumnya. “Kamu tampan kalau takut,” katanya. Satria menatapnya. “Bukan takut yang pengecut. Takut yang tetap datang.”
Satria tidak bisa langsung menjawab. Ia ingin berkata bahwa itu bukan pujian yang bisa diterima dengan normal. Ia ingin mengingatkan bahwa mereka di parkiran. Ia ingin menurunkan tangan Renata dari kerahnya karena setiap detik sentuhan itu tinggal di sana, pertahanan yang ia bangun seperti pintu tua yang mulai kalah oleh engselnya sendiri.
Tapi ia tidak bergerak. Renata menyadarinya. Ia menurunkan tangan pelan, tapi sebelum benar-benar lepas, ujung jarinya menyentuh sebentar punggung tangan Satria. Ringan. Pertanyaan tanpa suara. Satria menatap tangan itu. Lalu, dengan gerakan yang sangat kecil, ia membiarkan jari-jarinya menyentuh balik. Tidak menggenggam. Hanya membalas keberadaan.
Renata tidak bergerak selama dua detik. Kali ini ia yang hampir lupa bernapas. Satria menarik tangannya lebih dulu, wajahnya langsung kembali kaku seperti pria yang baru sadar melakukan pelanggaran prosedur. “Saya harus pulang.”
Renata menahan senyum yang ingin keluar terlalu besar. “Takut?”
“Iya.” Jawaban itu terlalu jujur sampai Renata tertawa.
Satria membuka pintu mobil untuknya. Gerakannya sopan, sederhana, dan tidak dibuat-buat. Renata masuk, lalu menurunkan kaca sebelum ia menutup pintu.
“Kamu naik apa pulang?”
“Taksi online.”
“Aku antar.”
Satria menggeleng. “Malam ini kamu sudah cukup lelah. Pulang.” Ia mengatakannya dengan nada yang tidak keras, tapi final. Bukan menolak perhatian Renata karena gengsi, melainkan memberi batas yang terasa seperti perhatian balik.
Renata menatapnya. Lalu mengangguk. “Kirim pesan kalau sudah sampai.”
Satria hampir menjawab bahwa itu tidak perlu. “Ya,” katanya.
Renata tersenyum kecil. “Kemajuan kecil.”
Satria merapatkan bibir, lalu menatap ke arah jalan seolah taksi online bisa menyelamatkannya lebih cepat.
Renata menjalankan mobil keluar dari parkiran setelah Satria berdiri di tepi jalan, menunggu taksinya datang. Dari kaca spion, ia melihat pria itu mengecek ponsel, lalu mengangkat wajah sebentar ke arah mobilnya yang menjauh. Renata tidak tahu apa nama yang tepat untuk perasaan di dadanya. Bukan menang. Bukan lega sepenuhnya. Lebih seperti menemukan tempat duduk kecil di tengah ruangan yang terlalu penuh, lalu menyadari seseorang diam-diam menyisakan ruang di sebelahnya.
Satria mengirim pesan dua puluh lima menit kemudian.
Sudah sampai.
Renata sudah di kamarnya, melepas anting di depan meja rias. Gaun hitamnya masih ia pakai. Rambutnya mulai berantakan. Wajahnya di cermin terlihat lebih lelah, tapi tidak sekosong saat pulang dari makan malam keluarga biasanya.
Ia membalas:
Bagus.
Lalu menambahkan:
Makan malam tadi termasuk kencan?
Balasan Satria lama. Sangat lama. Renata menunggu sambil tersenyum sendiri. Akhirnya pesan masuk.
Termasuk pertolongan pasca-acara keluarga.
Renata tertawa.
Kencan dengan subsidi trauma keluarga.
Balasan datang lebih cepat.
Nama yang buruk.
Lalu:
Tapi akurat.
Renata tersenyum. Pesan berikutnya masuk.
Tidur, Renata.
Tidak ada “jangan terlalu malam”. Tidak ada candaan tambahan. Hanya perintah pendek yang anehnya terasa lebih hangat daripada semua kalimat manis yang pernah ia terima dari pria-pria yang tahu cara memuji.
Ia meletakkan ponsel di meja. Lalu layar menyala lagi.
Dan jangan makan sambal terlalu banyak besok.
Renata menatap pesan itu. Tersenyum.
Di kamar kosnya, Satria meletakkan ponsel di samping kasur, lalu menutup mata dengan punggung tangan.
Ia sudah menghabiskan uang lebih banyak dari rencana malam itu. Taksi pergi-pulang, makan, dan sedikit parkir yang dicuri Renata sebagai kontribusi tidak seberapa, tetapi cukup untuk mengganggu catatan bulanannya. Namun ada hal lain yang lebih mengganggu. Jari Renata di punggung tangannya. Bukan sentuhan pertama. Renata sudah beberapa kali menyentuhnya dengan ringan, seenaknya, seolah tubuh Satria adalah batas yang boleh diketuk sambil menunggu izin. Tapi tadi berbeda. Karena Satria membalas. Kecil. Nyaris tidak ada. Tapi ia tahu. Renata tahu. Dan sekarang Satria tidak bisa pura-pura bahwa semua kekacauan ini hanya bergerak dari satu arah. Ia menatap plafon kamar kosnya yang sedikit kusam. “Bodoh,” gumamnya pada diri sendiri.
Ponselnya menyala lagi. Renata.
Selamat tidur, pria yang takut tapi tetap datang.
Satria menutup mata. Wanita ini benar-benar gila. Dan ia, yang jauh lebih waras, lebih teratur, lebih berhati-hati, ternyata mulai menunggu pesan gilanya seperti orang yang tidak punya perlindungan cukup terhadap kebahagiaan kecil.
Ia tidak membalas cepat. Lalu, setelah hampir satu menit, ia mengetik:
Selamat tidur, perempuan yang lapar setelah makan malam mahal.
Renata membalas dengan satu emoji tertawa. Satria mematikan layar ponsel. Malam itu, Jakarta tetap berisik di luar jendela kosnya. Tapi untuk pertama kalinya sejak pindah ke kota ini, suara itu tidak terasa sepenuhnya asing.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!